Tak ada yang istimewa pada pertemuan kali itu. Hanya senyum simpul dan tatapan redup yang sebentar tertunduk dan sebentar tenggelam dalam diam. Lelaki itu datang pada awal tahun tepat saat aku mengharapkan kedatangannya.
Yang kuingat dari hari itu adalah matanya yang bulat seperti bulan tenggelam dalam air kali di samping rumahku.
11 September.. entah di tahun ke berapa kita pergi mendaki bukit yang tak terjal amat. Ada beberapa kawan yang menyertai pertemuan kita. Berhenti pada bebatuan bukit dan berbicara di sana.
“Tentu engkau tak keberatan aku ajak bicara di sini,” ucapmu.
Lalu kita memulai dengan berbicara antara aku dan kamu.
Kadang diam-diam kupandangi wajahmu. Dan jantungku hampir berhenti saat aku kau pergoki telah mencuri pandang.
Tak lain karena aku tak memiliki keberanian menatap tajamnya matamu. Engkau tak akan melepaskannya.
“Biarkan aku mencari keyakinanku Nggi. Aku tak yakin kau mampu meyakinkanku”
Perjalanan telah lama aku tempuh. Namun berkali-kali kandas.
“Mengapa tak kau lanjutkan kejaran cintamu dengan perempuan yang kau idamkan.”
Kemudian aku diam. Memberi jeda. Tak lama kau merespons apa yang aku katakan.
“Aku telah mengenalmu lama. Meski tak pernah berhasil menemukan wajahmu, aku telah tahu sinar dan kedalaman hatimu. Percayalah. Aku bisa kau percaya untuk meyakinkanmu.
Dan benar. Aku menemukanmu persis seperti yang aku bayangkan dan kutemui dalam mimpiku.”
Angin sore berembus tipis. Kulihat kabut mulai beranjak merapat menuju kaki bukit.
Dan kita turuni jenjang bukit menuju pos terakhir rombongan kita. Meski pertemuan bukanlah awal, dan perpisahan bukanlah yang terakhir. Aku menghendaki perpisahan. Karena pada saat itulah harapan tumbuh untuk bertemu denganmu di suatu hari nan indah.
Senin, 17 November 2008
Dirimu, Diriku
Diam-diam aku menyimpan rindu. Pada hijaunya sawah dan perawannya jalan yang sering kulewati. Bersama ketiga sahabatku,,dengan ribuan semangat bersaudara.
Canda tawa tak pernah lepas. Sedih pun luruh jika bersama mereka.
Tidak jarang bahkan, kami bolos kuliah hanya untuk bertandang ke kos teman yang lain. Tapi yang lain boleh iri jika kita selalu membuat takjub teman sekelas karena presentasi mata kuliah. Tentu bersama mereka.
Sore ini kangen terhadap mereka berkelindan tak menentu. Membicarakan hal yang ringan bersama mereka menjadi serius dan berat.
Kami telah berpisah terhitung sepuluh tahun. Dan barangkali Shinta telah menyekolahkan anak pertamanya ke Sekolah Dasar. Dan Lia, tentulah anaknya akan masuk sebuah Taman Kanak-kanak. Aat, sahabatku yang hitam manis itu. Ia sangat perfeksionis untuk seorang laki-laki. Tak sembarang memilih orang menjadi teman hidupnya. Aku sendiri heran dibuatnya. Yang dipilihnya memang sederhana seperti yang ada dalam pikiranku..cerdas, baik, dan pengertian. Tak perlu ganteng, hanya cakap dan berkepribadian tentunya.
Sulit memang. Tak semudah teorinya Eric Fromm atau Lutfi,,ternyata sampai usia kepala tiga lebih pun kami sulit menemukannya.
Beberapa sore ini aku sering menghabiskan waktuku di beranda. Membacai kata-kata yang pernah kugoreskan pada berlembar-lembar kertas. Tersenyum dan kadang lebih banyak mengernyitkan dahi.
Dan kenangan tak tinggal diam dalam sebuah kertas. Ia mengajakku berkelana mengunjungi masa lalu yang telah beranjak.
Tentulah aku takkan menjadi perempuan yang menyedihkan begini jika aku menjalani hidup biasa-biasa saja.
Pekerjaan lebih banyak menyita waktuku dari pada kesenangan-kesenangan lainnya.
Tak sempat olehku memikirkan laki-laki dengan serius. Hati dan otak ini lebih banyak menilai dan membaca yang dekat denganku.
Betapa hidup telah kubuat seserius ini.
Teman-teman dengan anak-anak dalam pangkuannya sering menanyaiku soal yang mereka anggap keanehan itu.
“laki-laki seperti apa lagi yang hendak engkau terima Tia”.
Jika sudah begitu aku akan susah menjelaskan apa yang jadi kehendakku. Dan tak mungkin aku jelaskan panjang lebar mengenai pilihan-pilihanku. Karena pertanyaan itu tidak untuk mengetahui jawaban beserta penjelasannya. Yang dibutuhkan hanyalah aku mengikuti jejak mereka. Menikah yang penting berjenis kelamin laki-laki,ah...
Sungguh pedih. Hingga akhirnya harus mempertahankan ikatan pernikahan dengan sekam yang membara di dalamnya.
Selanjutnya tak kulanjutkan lagi membacai surat-surat lama yang tertimbun tumpukan buku tahunan lalu. Hanya membutuhkan komputer untuk menghilangkan penat dan rasa rindu pada sahabat-sahabatku itu.
Benar memang. Terasa hidup demikian sunyi tanpa sahabat yang dengan setia dan rela menghabiskan waktunya bersamaku.
Datanglah ingatanku pada laki-laki gondrong ceking dengan dandanan tak pernah necis.
Ketidaksengajaanlah pertemuan itu sebenarnya.
Memang awalnya datang dari satu mulut ke mulut lain. Hingga perjodohan sesama kawan dimulai.
Kemudian datanglah ia mencegatku untuk berbicara lebih banyak dan dekat. Tepatnya di sebuah pertemuan perwakilan mahasiswa se-nusantara.
“Bolehkah aku mengundangmu untuk ngobrol malam ini di depan pendopo,” ia memulai.
Dan tak bisa kutolak karena aku memang tak bisa mengatakan tidak untuk hal baik. Dan ku iyakan saja ajakan itu.
“Sebanyak ini kau ajak kawan-kawanmu sekadar menemuiku”
“Iya. Mereka tak percaya padaku bahwa aku juga sanggup berkenalan dengan seorang perempuan. Sepertimu.”
Mulailah perbincangan yang dibuka dengan perkenalan. Dan diskusi tak bisa dihindarkan lagi. Karena kami sama-sama memiliki kebiasaan, kesukaan, dan semangat yang sama. Hingga kami tak merasai bahwa pagi telah mengirim embun dan angin dingin.
Setelah perbincangan di tengah malam laki-laki gondrong itu seperti telah mengiisap shabu. Ketagihan dan ketagihan. Dan di malam-malam seterusnya kami berdiskusi hingga mata tak mampu membelalak lagi.
Di hari lainnya kami menghabiskan waktu tidak di dalam Simposium tapi di beberapa narasumber. Kami keranjingan untuk menemui dan mewancarai. Hanya diperlukan kesabaran untuk mendengarkan cerita, kisah kebesaran yang telah lalu. Dan kami berdua dengan satu kawannya kembali menuju wisma tempat kami bertemu awalnya.
Ah,,betapa aku telah merasa mengenalnya lebih setelah jabatan tangan kala itu.
Entah berapa kilo jalan yang telah kita susuri. Dan entah berapa ribu kata yang telah kita untai dan rangkai bersama. Bertemu denganmu seperti tak habis topik pembicaraan. Tak pernah bosan mendengar dan mengucap. Itulah yang kurasakan selama dekat denganmu.
Selalu kutemukan semangat baru dan kudapat energi baru....dan akhirnya tak ada lagi kata pencarian. Yang ada adalah membangun dan mengerti,,,
Canda tawa tak pernah lepas. Sedih pun luruh jika bersama mereka.
Tidak jarang bahkan, kami bolos kuliah hanya untuk bertandang ke kos teman yang lain. Tapi yang lain boleh iri jika kita selalu membuat takjub teman sekelas karena presentasi mata kuliah. Tentu bersama mereka.
Sore ini kangen terhadap mereka berkelindan tak menentu. Membicarakan hal yang ringan bersama mereka menjadi serius dan berat.
Kami telah berpisah terhitung sepuluh tahun. Dan barangkali Shinta telah menyekolahkan anak pertamanya ke Sekolah Dasar. Dan Lia, tentulah anaknya akan masuk sebuah Taman Kanak-kanak. Aat, sahabatku yang hitam manis itu. Ia sangat perfeksionis untuk seorang laki-laki. Tak sembarang memilih orang menjadi teman hidupnya. Aku sendiri heran dibuatnya. Yang dipilihnya memang sederhana seperti yang ada dalam pikiranku..cerdas, baik, dan pengertian. Tak perlu ganteng, hanya cakap dan berkepribadian tentunya.
Sulit memang. Tak semudah teorinya Eric Fromm atau Lutfi,,ternyata sampai usia kepala tiga lebih pun kami sulit menemukannya.
Beberapa sore ini aku sering menghabiskan waktuku di beranda. Membacai kata-kata yang pernah kugoreskan pada berlembar-lembar kertas. Tersenyum dan kadang lebih banyak mengernyitkan dahi.
Dan kenangan tak tinggal diam dalam sebuah kertas. Ia mengajakku berkelana mengunjungi masa lalu yang telah beranjak.
Tentulah aku takkan menjadi perempuan yang menyedihkan begini jika aku menjalani hidup biasa-biasa saja.
Pekerjaan lebih banyak menyita waktuku dari pada kesenangan-kesenangan lainnya.
Tak sempat olehku memikirkan laki-laki dengan serius. Hati dan otak ini lebih banyak menilai dan membaca yang dekat denganku.
Betapa hidup telah kubuat seserius ini.
Teman-teman dengan anak-anak dalam pangkuannya sering menanyaiku soal yang mereka anggap keanehan itu.
“laki-laki seperti apa lagi yang hendak engkau terima Tia”.
Jika sudah begitu aku akan susah menjelaskan apa yang jadi kehendakku. Dan tak mungkin aku jelaskan panjang lebar mengenai pilihan-pilihanku. Karena pertanyaan itu tidak untuk mengetahui jawaban beserta penjelasannya. Yang dibutuhkan hanyalah aku mengikuti jejak mereka. Menikah yang penting berjenis kelamin laki-laki,ah...
Sungguh pedih. Hingga akhirnya harus mempertahankan ikatan pernikahan dengan sekam yang membara di dalamnya.
Selanjutnya tak kulanjutkan lagi membacai surat-surat lama yang tertimbun tumpukan buku tahunan lalu. Hanya membutuhkan komputer untuk menghilangkan penat dan rasa rindu pada sahabat-sahabatku itu.
Benar memang. Terasa hidup demikian sunyi tanpa sahabat yang dengan setia dan rela menghabiskan waktunya bersamaku.
Datanglah ingatanku pada laki-laki gondrong ceking dengan dandanan tak pernah necis.
Ketidaksengajaanlah pertemuan itu sebenarnya.
Memang awalnya datang dari satu mulut ke mulut lain. Hingga perjodohan sesama kawan dimulai.
Kemudian datanglah ia mencegatku untuk berbicara lebih banyak dan dekat. Tepatnya di sebuah pertemuan perwakilan mahasiswa se-nusantara.
“Bolehkah aku mengundangmu untuk ngobrol malam ini di depan pendopo,” ia memulai.
Dan tak bisa kutolak karena aku memang tak bisa mengatakan tidak untuk hal baik. Dan ku iyakan saja ajakan itu.
“Sebanyak ini kau ajak kawan-kawanmu sekadar menemuiku”
“Iya. Mereka tak percaya padaku bahwa aku juga sanggup berkenalan dengan seorang perempuan. Sepertimu.”
Mulailah perbincangan yang dibuka dengan perkenalan. Dan diskusi tak bisa dihindarkan lagi. Karena kami sama-sama memiliki kebiasaan, kesukaan, dan semangat yang sama. Hingga kami tak merasai bahwa pagi telah mengirim embun dan angin dingin.
Setelah perbincangan di tengah malam laki-laki gondrong itu seperti telah mengiisap shabu. Ketagihan dan ketagihan. Dan di malam-malam seterusnya kami berdiskusi hingga mata tak mampu membelalak lagi.
Di hari lainnya kami menghabiskan waktu tidak di dalam Simposium tapi di beberapa narasumber. Kami keranjingan untuk menemui dan mewancarai. Hanya diperlukan kesabaran untuk mendengarkan cerita, kisah kebesaran yang telah lalu. Dan kami berdua dengan satu kawannya kembali menuju wisma tempat kami bertemu awalnya.
Ah,,betapa aku telah merasa mengenalnya lebih setelah jabatan tangan kala itu.
Entah berapa kilo jalan yang telah kita susuri. Dan entah berapa ribu kata yang telah kita untai dan rangkai bersama. Bertemu denganmu seperti tak habis topik pembicaraan. Tak pernah bosan mendengar dan mengucap. Itulah yang kurasakan selama dekat denganmu.
Selalu kutemukan semangat baru dan kudapat energi baru....dan akhirnya tak ada lagi kata pencarian. Yang ada adalah membangun dan mengerti,,,
Gerimis di Tepi Jendela
Aku menunggu pada tepi jendela yang sedikit terbuka. Gerimis pun tak kunjung reda meski telah mencurah berjam-jam lamanya. Lampu-lampu telah kunyalakan. Dan semua pintu telah aku tutup. Aku masih berdiri pada tepian jendela yang tak sepenuhnya aku buka. Aku khawatir pada petir yang terus menyambar.
“Semoga engkau baik-baik saja di mana pun berada”.
Seperti permintaan atau lebih tepatnya doa, aku memandangi pintu gerbang halaman dengan tak henti-hentinya mulutku berkomat-komit. Berharap pintu itu segera kau buka dan aku akan merasa lega.
Namun harapan itu kembali kosong. Sedang petang terus meredup. Awan ikut mewarnai gelap. Jam dinding berdentang enam kali. Aku keluar dari kamar menuju teras rumah. Biasanya engkau akan bahagia jika aku yang membukakan pintu.
Kutunggui beberapa menit dengan memperhatikan jatuhnya air pada pucuk-pucuk bunga.
Akhirnya aku menyerah pada dingin dan kembali kututup daun pintu menuju sofa.
Gemericik air mengantarkanku pada lamunan. Karena sendiri, aku lebih banyak berpikir jika tidak dikatakan melamun. Pikiran beranjak mundur. Dan perasaan bersalah mengaliri darah di seluruh tubuhku.
Bersalah telah mendiamkanmu karena rasa kesal yang tak bisa kutahan. Dan saat engkau pergi bekerja seperti sedianya.
Pertengkaran kecil itu membuatku tak nyaman. Meskipun engkau akan tetap memperlakukanku dengan baik. Seolah-olah tak terjadi apa-apa engkau akan mengawali pembicaraan dengan menceritakan aktivitasmu selama seharian penuh.
Mungkin itu kelebihanmu, pikirku. Bisa melupakan pertengkaran dengan segera.
Berbeda degan aku yang lebih sering memendam dan menyimpannya. Menunggu waktu yang tepat untuk segera mengatakannya. Tak jarang keluar protes dan marah.
Seperti kali ini. Karena seminggu ini Engkau tak pernah bertanya bagaimana kabarku.
“Pekerjaanmu lebih bisa menuntutmu ketimbang sekadar bertanya bagaimana keadaan istrimu. Dan tentu kau akan memilih kesenanganmu akan pekerjaan-pekerjaan itu.”
Tak kau jawab apa yang telah aku katakan. Dan kau kembali dengan muka masam.
“ Bukankah aku yang seharusnya marah dan bermuka masam,” tambahku. Kau masih juga tak menghiraukan.
Kali ini aku tak bisa merendahkan suaraku. Apa pun namanya, aku lebih tidak suka Engkau diam seribu kata.
“Baiklah, besok aku akan pergi mengunjungi seorang kawan. Akan kutinggalkan pekerjaanku untuk sementara waktu.”
Tak perlu menunggu lama. Sudah kupastikan kau akan mengatakan atau melakukan sesuatu.
“Pergi saja. Senangkan dirimu jika kau merasa tersiksa berada di rumah ini” katamu dingin.
Serta merta aku menuju kamar. Mengemasi kopor dan buku yang hendak aku bawa.
Kali ini aku benar-benar tak perlu merasa bersalah jika harus pergi.
Jendela ini menjadi saksi tiap datang sedihku. Dan aku akan berada di tepiannya membuang pandangan ke luar.
Pertemuan kita berakhir dengan rasa sakit yang kutanggung. Entah berapa lama.
Tapi selalu ada maaf, entah berapa banyak yang aku miliki. Hingga kita lupa pada pertengkaran lusa, dan lusa.
Medio Desember
“Semoga engkau baik-baik saja di mana pun berada”.
Seperti permintaan atau lebih tepatnya doa, aku memandangi pintu gerbang halaman dengan tak henti-hentinya mulutku berkomat-komit. Berharap pintu itu segera kau buka dan aku akan merasa lega.
Namun harapan itu kembali kosong. Sedang petang terus meredup. Awan ikut mewarnai gelap. Jam dinding berdentang enam kali. Aku keluar dari kamar menuju teras rumah. Biasanya engkau akan bahagia jika aku yang membukakan pintu.
Kutunggui beberapa menit dengan memperhatikan jatuhnya air pada pucuk-pucuk bunga.
Akhirnya aku menyerah pada dingin dan kembali kututup daun pintu menuju sofa.
Gemericik air mengantarkanku pada lamunan. Karena sendiri, aku lebih banyak berpikir jika tidak dikatakan melamun. Pikiran beranjak mundur. Dan perasaan bersalah mengaliri darah di seluruh tubuhku.
Bersalah telah mendiamkanmu karena rasa kesal yang tak bisa kutahan. Dan saat engkau pergi bekerja seperti sedianya.
Pertengkaran kecil itu membuatku tak nyaman. Meskipun engkau akan tetap memperlakukanku dengan baik. Seolah-olah tak terjadi apa-apa engkau akan mengawali pembicaraan dengan menceritakan aktivitasmu selama seharian penuh.
Mungkin itu kelebihanmu, pikirku. Bisa melupakan pertengkaran dengan segera.
Berbeda degan aku yang lebih sering memendam dan menyimpannya. Menunggu waktu yang tepat untuk segera mengatakannya. Tak jarang keluar protes dan marah.
Seperti kali ini. Karena seminggu ini Engkau tak pernah bertanya bagaimana kabarku.
“Pekerjaanmu lebih bisa menuntutmu ketimbang sekadar bertanya bagaimana keadaan istrimu. Dan tentu kau akan memilih kesenanganmu akan pekerjaan-pekerjaan itu.”
Tak kau jawab apa yang telah aku katakan. Dan kau kembali dengan muka masam.
“ Bukankah aku yang seharusnya marah dan bermuka masam,” tambahku. Kau masih juga tak menghiraukan.
Kali ini aku tak bisa merendahkan suaraku. Apa pun namanya, aku lebih tidak suka Engkau diam seribu kata.
“Baiklah, besok aku akan pergi mengunjungi seorang kawan. Akan kutinggalkan pekerjaanku untuk sementara waktu.”
Tak perlu menunggu lama. Sudah kupastikan kau akan mengatakan atau melakukan sesuatu.
“Pergi saja. Senangkan dirimu jika kau merasa tersiksa berada di rumah ini” katamu dingin.
Serta merta aku menuju kamar. Mengemasi kopor dan buku yang hendak aku bawa.
Kali ini aku benar-benar tak perlu merasa bersalah jika harus pergi.
Jendela ini menjadi saksi tiap datang sedihku. Dan aku akan berada di tepiannya membuang pandangan ke luar.
Pertemuan kita berakhir dengan rasa sakit yang kutanggung. Entah berapa lama.
Tapi selalu ada maaf, entah berapa banyak yang aku miliki. Hingga kita lupa pada pertengkaran lusa, dan lusa.
Medio Desember
Rabu, 22 Oktober 2008
POPPY DHARSONO:
BERPOLITIK KARENA PANGGILAN HATI
SETELAH mengenyam asam-garam dunia desain dan fashion yang telah membesarkan namanya, saat ini Poppy Dharsono mulai memasuiki dunia politik. Perempuan ayu usia baya yang awet muda ini tidak tanggung-tanggung memasuki panggung politik.
Salah satu pemrakarsa Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) ini sebelumnya ikut pencalonan pilkada kepala daerah Jawa Tengah melalui partai, meski akhirnya gagal di tingkat Komisi Pemilihan Umum. Tahun depan Poppy berencana mengikuti hajatan politik mencalonkan diri sebagai Dewan Perwakilan Daerah Jawa Tengah.
Apa yang melatarbelakangi Poppy terjun ke dunia politik? Seberapa jauh kesiapannya? Berikut wawancara Kustiah dengan perempuan kelahiran Garut, 57 tahun lalu ini di sela-sela acara pembukaan sebuah galeri di Jakarta Selatan beberapa pekan lalu.
1. Apa yang membuat Anda tertarik terjun ke dunia politik?
Mungkin lebih karena panggilan hati. Bangsa ini membutuhkan orang-orang yang serius untuk membesarkan bangsanya. Memang political will dari pemerintah sudah ada, hanya saja masih ada hambatan. Soal skill dan sumber daya manusia. Di negara kita ini banyak politisi, tapi jarang yang benar-benar berbuat konkret untuk masyarakat. Semua mengatasnamakan rakyat, tapi ujung-ujungnya lebih mementingkan kepentingan pribadi.
Saya berniat membantu masyarakat lemah. Selain dengan perbuatan nyata, ada kebijakan yang lebih memihak kehidupan mereka. Khususnya pemberdayaan orang-orang lemah, membantu orang-orang yang secara ekonomi dan sosial belum terbantu. Misalkan saja usaha industri kecil. Saat ini belum banyak yang mengelola.
2. Apakah untuk tujuan itu harus melalui dunia politik?
Saya ingin memberikan sumbangsih bagi bangsa ini. Membantu secara langsung. Sebenarnya apa yang saya lakukan saat ini adalah melanjutkan apa yang sudah saya lakukan kemarin-kemarin. Mendirikan usaha kecil untuk masyarakat yang memiliki skill dan (merupakan) sumber daya masyarakat yang bagus tapi, tidak ada yang mewadahinya. Mengembangkan usaha-usaha kecil. Kebetulan saya kan terlibat di Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia yang sudah melakukan pendampingan terhadap usaha-usaha industri kecil. Ada 150 orang anggota lebih yang melanjutkan program ini. Dan sudah berjalan dengan baik.
3. Bagaimana respons keluarga dan teman-teman Anda saat mengetahui Anda terjun ke politik?
Mereka sangat mendukung. Salah satunya membantu mempersiapkan buku dan peluncurannya. Sharing tentang bagaimana usaha-usaha kecil bisa berkembang dan membantu mengerjakannya. Mereka sangat men-support.
4. Persiapan apa saja yang sudah Anda lakukan untuk rencana pencalonan Anda di DPD tahun depan?
Yang pertama fokus dengan buku. Saya ingin mendokumentasikan perjalanan 30 tahun berkarya sebagai desainer. Buku saya lebih banyak bercerita tentang sejarah kain-kain Nusantara. Kain yang kita olah ternyata masih up to date dengan fashion-fashion yang sedang ngetren saat ini. Tiga Desember nanti akan di-launch.
Selain tetap mempersiapkan kampanye. Satu tahun mengurusi persiapan pilkada yang gagal tahun lalu cukup membuat saya terbantu. Meski gagal, saya masih bisa melanjutkan network yang saat itu sudah saya bangun, konstituen-konstituen juga masih intens. Kami sudah mempersiapkan semuanya.
5. Berapa banyak dana yang Anda gunakan untuk pendaftaran calon kepala daerah tahun lalu dan persiapan pencalonan DPD tahun depan?
Untuk pencalonan pilkada tahun lalu saya habis banyak. Cost politic memang tidak sedikit. Kurang lebih saya habis satu miliar. Ini untuk cost politic lho, bukan money politic. Tidak ada pelican-pelicin. Yang begitu-begitu lebih baik saya tidak usah aja deh. Ya namanya juga berpolitik. Kalau untuk pencalonan DPD ini saya baru habis 400 juta (Rupiah). Untuk ongkos pergi ke daerah bersama teman-teman. Saya kan perginya tidak sendiri. Ada teman-teman pendukung yang menemani.
6. Apa penyebab Anda gagal di pilkada Jawa Tengah tahun lalu?
Wah, saya sebenarnya ingin cerita. Tapi of the record aja ya …. Biasa, politik itu kan selalu identik dengan biaya mahal. Nah, ini yang membuat saya lebih baik tidak melanjutkan saja. Kalau untuk kebutuhan konkret membantu masyarakat mungkin saya masih toleransi, ini sudah lain ceritanya. Kalau secara kualifikasi saya tidak ada masalah. Ya karena faktor lainnya itu, yang bagi saya bermasalah.
7. Apa saja aktivitas Anda selain bergiat di dunia politik?
Masih seputar persiapan peluncuran buku Redifining Heritage. Ada rencana buku ini diterjemahkan dalam bahasa Indonesia agar mudah diakses. Judul dalam bahasa Indonesia “Memakna Ulang Pusaka Budaya”. Saat ini saya kan banyak waktu. Kalau dulu bekerja perlu waktu panjang, sekarang sudah tidak lagi. Apalagi waktu yang saya habiskan tidak sedikit, 30 tahun. Masak (saya) masih tetap membutuhkan waktu 12 jam untuk bekerja.
Dunia desain bagi saya adalah profesi karena hobi. Saat ini saya melakukannya di waktu-waktu sela. Kan tidak perlu waktu lama. Kalau ada waktu 12 jam saya hanya membutuhkan waktu enam jam untuk menyelesaikannya. Kalau teman-teman selesai bekerja waktunya digunakan untuk bermain golf, saya menggunakannya untuk bekerja. Sekarang kebalikannya.
8. Program apa saja yang sudah Anda siapkan jika Anda terpilih di DPD nanti?
Mengembangkan industri kecil. Pasca-gempa di Yogyakarta dan Klaten beberapa tahun lalu membuat industri kecil kain pertenunan di Klaten terpuruk. Saya sudah memulainya dengan membantu industri usaha ini agar bisa bergerak kembali. Yang kedua, saya ingin menerapkan program Grameen Bank. Di Indonesia program ini sangat dibutuhkan.
Saya sudah memulai di Jawa Barat yang teman-teman namakan “Kawan Cempaka”. Yang kami bantu kebanyakan perempuan semua. Di Subang hampir 2.000 perempuan yang sudah menerima pinjaman model Grameen Bank ini. Membantu orang kan tidak melihat daerah. Meski saya pencalonanya nanti di Jawa Tengah, saya melihat di daerah Subang banyak sekali masyarakat yang membutuhkan. Rencananya nanti akan diperluas. Industri usaha kecil di Klaten kan sudah mulai bergerak. Tinggal nanti kita lihat daerah lainnya lagi yang membutuhkan bantuan. Sebenarnya di Indonesia banyak banget SDM yang sudah memiliki skill bagus. Hanya pemberdayaannya saja yang belum maksimal.
9. Pendapat Anda tentang keterlibatan perempuan dalam dunia politik dewasa ini?
Penting sekali. Nasib sebuah bangsa tidak akan baik jika mengabaikan kaum perempuan. Saat ini banyak kok perempuan Indonesia yang memiliki skill bagus. Tingkat pemahaman dan pendidikan terhadap politik juga tak kalah dengan laki-laki. Kalau ada kesempatan kenapa tidak diambil. Perempuan di Indonesia jika diberdayakan dan diberi kesempatan yang sama seperti laki-laki, (maka) saya yakin persoalan bangsa tidak akan (jadi) sepelik ini.
Kita perlu dukung kemauan dan upaya pemerintah untuk bangkit dari keterpurukan. Caranya, pendidikan politik terhadap kaum perempuan harus digalakkan. Pengelolaan usaha industri kecil ditingkatkan. Umpamanya begini, kalau ingin membuat hancur sebuah bangsa caranya gampang, timpangkan saja kaum perempuannya. Artinya, betapa pentingnya keterlibatan perempuan. Bangsa ini tidak akan pernah berhenti ditimpa masalah dan krisis jika para perempuannya tidak ikut terlibat menyelesaikannya.
Nama: Poppy Dharsono
Tempat/Tanggal Lahir: Garut, 8 Juli, 1951
Pendidikan: Akademi Sinematografi, Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) Ecole Superieur de la Mode (ESMOD), Guarre-Lavigne, Paris, Prancis.
Karier: Designer Poppy Dharsono Studio (1977). Direktur dan Pemilik of Poppy Dharsono Fashion Studio (1977 - sekarang). Komisaris PT Panin Nusamas (1980 - Sekarang). Presiden Komisaris PT Rana Sankara (1986 - sekarang). Presiden Direktur PT Poppy Dharsono Cosmetics (1989 - sekarang). Presiden Komisaris PT Prima Garis Moda (1998 - sekarang). Presiden Komisaris PT Indotex LaSalle International College (1999 - sekarang). Presiden Komisaris Indonesia International Fashion Institute (2004 - sekarang).
Organisasi: Vice President Indonesian Apparel Manufacturers Association (1987 - 1991) Chairperson of the Compartement of Small Scale Businessman and Industry,
The Indonesia Chamber of Commerce and Industry (1988 - 1998). Anggota Dewan Pertimbangan - Federation of Citizen Entrepreneurs of Indonesia (1988 - 1955). Ketua - Indonesia House Foundation (1990 - sekarang). Ketua - Society of International Development (SID) (1990 - sekarang). Ketua - Asosiasi Fashion Desainer Indonesia (1993 - sekarang). Chairperson of the Indonesian Garments & Accessories Suppliers Association (1995 - sekarang). Koordinator Tourism and Trade Development, Indonesia Chamber of Commerce and Industry US Committee (1995 - sekarang). Vice Presiden The Indonesian Chamber of Commerce & Industry, Coordinating Social Welfare Affairs (1998 - sekarang).
Penghargaan: Penghargaan oleh Departemen Pendidikan & Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Pusat Pengembangan Penataran Guru Kejuruan. Penghargaan oleh Lembaga Kerja sama Ekonomi Sosial & Budaya Indonesia-China untuk kontrisbusinya. Penghargaan oleh Surabaya Stock Exchange atas kontribusinya sebagai pembicara di ‘Stock Market & Venture’ Seminar. Adikarya Wisata penghargaan oleh Departement Pariwisata, Jakarta atas dedikasinya sebagai fashion desainer. Penghargaan oleh Metropolitan Mal Bekasi Management atas kontribusinya dalam Eksebisi Industri Kecil. Penghargaan oleh DPP Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia atas kontribusinya dan dedikasinya sebagai entrepreneur. Penghargaan oleh KADIN atas kontribusi dan komitmen-nya dalam bisnis. (dimuat di Jurnas/Jumat,17 Oktober 2008)
Senin, 15 September 2008

Sawah
*Oleh: Kustiah
Sawah mengingatkanku pada masa kecil dan remaja. Kebahagiaan saat mengantar makanan untuk bapak. Bermain layang-layang. Dan mencari belut kala sore.
Telah lama aku tak merasakan bau tanah sawah saat diguyur hujan. Bau segar khas alam perdesaan. Hamparan hijau padi dan beningnya bulir-bulir embun di atas daunnya. Aku begitu menikmati masa kecil dan remajaku yang menyenangkan. Sayang, perjalananku menjadi petani kecil hanya sampai kelas tiga sekolah menengah pertama.
***
Waktu itu umurku delapan tahun. Dan baru saja ibuku memberiku seorang adik perempuan mungil. Menjadi anak pertama laki-laki tentulah aku yang menjadi andalan bagi kedua orang tuaku. Maka, tak jarang aku yang menyelesaikan pekerjaan rumah jika ibuku meminta.
Masa kecilku meninggalkan kenangan indah. Yag mungkin tak dirasakan anak-anak jaman sekarang. Menaiki kerbau milik bapak sudah hampir menjadi kebiasaan rutin saat ikut bapak ngluku. Dan aku bangga melakukannya. Apalagi ada bapak yang menjagaiku dari belakang. Jadi aku tak perlu takut jatuh atau terbawa lari oleh kerbau.
Sebenarnya aku tak akan diizinkan bapakku menaiki punggung kerbau. Selain bahaya, pekerjaan bapakku akan terganggu. Tapi aku tak kurang akal. Melihatku membawa rantang dari rumah dan mendengar rengekanku, bapak tak tega.
Pekerjaan wajibku sepulang dari sekolah memang mengantarkan makanan untuk bapak di sawah. Karena tak ada orang lain lagi yang disuruh mengantarkannya. Apalagi bapak orang rajin. Jika pekerjaannya belum selesai, tak akan ditinggal meski perut keroncongan. Walhasil, ibu memintaku mengirim nasi setiap kali bapak bekerja di sawah..
***
Anakku hanya mendengar cerita saja tentang masa kecilku yang bahagia. Mereka sesekali menanyakan bagaimana rasanya berada di punggung kerbau atau apakah kerbaunya masih hidup?
Maklum, kami tinggal di kota. Di perumahan yang berjubel. Hampir tak ada lahan persawahan atau bunyi suara kerbau di lingkungan rumah kami. Tentulah anak-anakku penasaran. Dan mereka bisa merasakan apa yang aku rasakan waktu kecil hanya saat berlibur ke rumah kakek neneknya di kampung.
**
Aku meninggalkan kampung halaman saat hendak memasuki kelas satu sekolah menengah atas. Bapak mengirimku ke sebuah pondok pesantren untuk sekolah dan belajar mengaji. Meski bukan keluarga santri, keluargaku dibesarkan dari orang-orang yang paham agama. Maka ketika anak-anakya telah lulus SMP, segera mereka mengirimnya ke sebuah pondok pesantren.
Ratusan kilo dari rumah, membuatku tak mungkin sering pulang dan bermain di sawah bersama bapak. Apalagi kegiatan sekolahku berjubel. Setelah pulang sekolah-kami menyebutnya sekolah umum—aku harus mengikuti sekolah mengaji. Kalau pun ada libur aku pulang sehari atau dua hari saja, selebihnya hari liburku aku gunakan untuk menyelesaikan hafalan mengaji. Begitu seterusnya hingga tiga tahun.
Lulus SMA aku melampiaskan waktu liburanku di rumah dan membantu bapak di sawah. Meski hanya sebentar-karena harus mempersiapkan kuliah—aku benar-benar tak ingin kehilangan kenanganku. Aku pergi ke sawah menyusul bapak. Sekarang bapak tidak dengan kerbaunya, melainkan dengan mesin traktor. Saat kutanya kemana kerbaunya, bapak menjawab, ” Kerbau bapak jual saat kamu berangkat ke pesantren. Karena tak lagi ada yang mengambilkan rumput dan merawatnya.”
Kami memiliki dua kerbau. Setiap sore aku mengambilkan rumput buat mereka. Tentu bapak akan kewalahan jika harus juga mengurusi kerbau. Untuk ngluku bapak menggantinya dengan tenaga traktor. Yang menurut bapak tak perlu repot mengurusnya.
Meski sebenarnya bapak menyesal telah menjual kerbau itu. Pasalnya, pakai traktor bapak harus merogoh kantong lebih dalam untuk biaya solar dan onderdil jika ada yang rusak.
”Praktis sih praktis, uangnya itu loh yang nggak praktis,” kata bapak. ”Coba kalau kerbaunya tidak bapak jual, mungkin bapak sudah memiliki banyak tabungan,” kata bapak terkekeh.
Wajar jika bapak berkata demikian. Selesai SMA bapak masih ingin melanjutkanku ke jenjang lebih tinggi. ”Meski bapak tidak kaya, kamu tetap harus sekolah,” kata bapak saat itu. Dan berangkatlah aku ke Jakarta setelah seminggu berada di rumah. Di Jakarta aku numpang pada pamanku, adik bapak yang sedang dinas di kejaksaan Jakarta. Karena menumpang, aku tidak ingin merepotkan dan mengecewakan mereka. Setiap pagi sebelum berangkat kuliah, aku membersihkan rumah terlebih dahulu meski tanpa diminta. Aku merasa sudah beruntung bisa ikut tinggal di rumah sewaan itu.
Sering merasa tidak enak dengan istri paman, aku meminta izin untuk pindah ke asrama mahasiswa. Tentu alasanku bukan karena tidak betah, tapi karena kuliah semakin padat dan aku banyak tugas. Dan pamanku mengizinkan.
Setiap bulan aku tidak pernah absen menerima kiriman dari bapak di kampung. Meski tidak banyak, uang itu cukup untuk makan dan fotokopi. Bapak memang seorang petani ulet. Hampir seluruh waktunya hanya untuk sawah. Tidak ada acara ngopi sembari ngobrol di warung seperti orang-orang di kampung kebanyakan. Sepulang dari sawah bapak langsung menuju surau depan rumah kami. Setelah itu istirahat siang. Dan sore harinya pekerjaan di sawah masih menunggu. Juga tidak heran jika tengah malam tiba, bapak tak ada di rumah. Sumur di sawah perlu pengawasan saat pengairan. Jadi kami sudah terbiasa mendengar bapak terbangun dan siap-siap pergi ke sawah.
Itulah sebabnya mengapa aku begitu bangga memiliki seorang bapak yang tak kenal lelah. Bahkan sekali pun aku tak pernah mendengar bapak mengeluh.
Hidup kami sangat sederhana. Meski sebenarnya kami juga tidak kekurangan. Bapak sebenarnya mampu membeli motor baru. Membeli televisi besar dan mengeramik lantai rumah kami seperti tetangga-tetangga lainnya.Tapi semua itu tidak bapak lakukan.
Di rumah kami hanya ada motor butut yang dibeli saat aku berumur sembilan tahun dan televisi hitam putih empat belas inci.Motor butut itu bapak beli untuk keperluan ibu. Seminggu sekali ibu harus belanja ke kota untuk mengisi warung kecil di depan rumah kami. Dan satu-satunya hiburan dan barang istimewa setelah motor butut adalah kotak hitam itu.
Rumah kami juga tidak mewah. Dindingnya dari papan jati dengan lantai bata merah yang diplester. Sewaktu aku kecil, lantai rumah kami sering di penuhi padi atau tumpukan kacang tanah. Jika musim panen padi atau kacang tanah, siang hari sepulang sekolah biasanya ibu memintaku menjemur padi di halaman.
Keluarga kami memang jauh dari mewah. Tapi semangat bapak agar anak-anaknya mengenyam bangku sekolah lebih tinggi dibandingkan siapa pun. Di kampung kami, bisa lulus sekolah menengah atas itu sudah kebanggaan. Bukan apa-apa, kesadaran orang tua untuk menyekolahkan anak masih rendah.
”Sekolah tinggi-tinggi, toh nanti juga nganggur. Buat apa menghabiskan uang,” kata Lek Sukir tetangga kami. Teman-teman seangkatanku lebih memilih merantau ke Jakarta untuk menjadi buruh bangunan karena tidak bisa melanjutkan sekolah. Sebagian lagi memilih tetap tinggal di kampung membantu bapak ibunya bertani. Bukan berarti ongkos yang dikeluarkan untuk biaya hidup lebih kecil. Mereka –anak-anak-itu harus dibelikan motor sebagai ganti agar mereka mau tetap tinggal.
Tidak jarang, sawah yang menjadi ladang hidup mereka harus dikorbankan untuk ditukarkan dengan motor. Yang lainnya lagi, siang malam bekerja di sawah. Setelah panen mereka harus setor ke perkreditan motor.
Sekali lagi aku bersyukur memiliki bapak yang cara berpikirnya lebih maju dari siapa pun. Selain tak mau bermewah-mewah, bapak lebih memilih memiliki tabungan untuk anak-anaknya sekolah dibanding memiliki barang yang sebenarnya tak membantu banyak itu. Perjuangan bapak benar-benar tidak sedikit. Sampai saatnya aku selesai kuliah.
Gelar sarjanaku berasal dari hasil keringat bapakku berpanas-panasan di sawah. Bapakku tak sedikit pun takut menjadi petani, karena dianggap miskin. Toh aku lulus kuliah juga.
Bahkan dari hasil tani itu, saat ini aku bisa bekerja sebagai dosen di salah satu universitas di kota. Jika saat kuliah empat bulan sekali aku dikirimi uang, sekarang giliranku mengirimi uang untuk bapak dan ibu di kampung. Selama aku kuliah tak satu pun sawah terjual. Bahkan bapak bisa menyisihkan tabungan dari hasil panen.
Maka, sebenarnya tak ada pekerjaan yang lebih indah selain menjadi petani di kampung. Memiliki sawah yang membentang hijau, kandang yang diisi sapi untuk ngluku, dan anak-anakku menaiki punggung sapi dengan tawa ceria.
Aku mengusulkan itu pada istriku untuk kembali ke kampung. Merawat anak-anak, mengajar dan bertani. Apalagi istriku yang juga seorang pengajar, tentulah ia bisa mengabdikan hidupnya untuk masyarakat kampung.
Jakarta 14 September
Minggu, 14 September 2008
Lebaran
*Oleh: Kustiah
Beberapa hari ini mata kananku sedikit berair dan kedutan. Menurut emak, kedutan di mata kanan tandanya akan bertemu kekasih atau orang yang kita sayangi. “Jika mata sebelah kanan kedutan, janganlah kamu terlalu khawatir. Karena itu pertanda baik,” kata Emak sewaktu masih hidup. “Khawatirlah jika yang kedutan itu mata kirimu. Segeralah ambil air wudhu dan berdoa agar peristiwa buruk tak terjadi. Hanya doa yang bisa menggagalkanya. Karena, jika yang kedutan mata sebelah kiri, itu pertanda akan ada bahaya datang. Pertanda kamu akan menangis,” lanjut Emak suatu kali.
Emak memang mahir dalam urusan mengartikan pertanda. Entah itu benar atau tidak kami tidak pernah mempermasalahkannya. Dan kami sebagai anak-anaknya selalu percaya. Di kemudian hari kami mengatakan yang sama kepada anak-anak kami. Meski kami dan anak kami berbeda cara pandang. Kalau dulu, saat Emak mengartikan pertanda dan mengatakannya kepada kami, kami percaya dan membenarkan dengan menghubung-hubungkan peristiwa yang telah ataupun yang akan terjadi. Sedangkan saat ini sungguh jauh berbedaa. Saat aku mencoba mengatakan hal yang sama kepada anak-anakku seperti yang Emak katakan kepada anak-anaknya, mereka segera berkata, “Ibu kuno, hari gini masih percaya mitos. Bisa jadi mata kedutan akibat kelilipan atau lelah. Ah, ibu mah percaya saja apa yang dikatakan orang jaman dulu” kata anak-anakku. Setelah itu, hanya sampai generasi kami saja yang percaya pada arti pertanda-pertanda itu. Sedang anak-anak kami tidak.
Begitupun dengan suara tokek yang sepanjang siang mengganggu istirahatku. Maka, Lastri yang akan mencari sapu ijuk bergagang panjang yang biasa digunakan membersihkan sawang untuk mengusir tokek itu. Kembali aku ingat kata Emak. Jika tokek bersuara di penuwun rumah pada siang hari, itu tandanya akan datang tamu agung. Aku mencoba mengingat-ingat, adakah seseorang yang aku tunggu hingga mata kananku terus bergerak-gerak. Atau siapakah gerangan tamu agung yang hendak berkunjung ke rumah nenek tua ini.
Tidak sia-sia Emak mewariskan ilmu menafsirkan tanda. Yang membuatku selalu merasa optimistis dan bertawakal. Ternyata, pun pertanda itu benar atau tidak, ia telah mengalirkan pengharapan pada tubuh tua ini.
Aku kemudian ingat anak-anak dan cucu-cucuku. Sebentar lagi lebaran datang. Pastilah yang akan datang dan menjadi tamu agung itu mereka. Setelah bulan puasa yang kutunggu-tunggu telah tiba, sekarang giliran hari lebaran yang kuharapkan segera datang.
Manusiwi bukan, jika hari yang ditunggu telah datang maka hari lain yang ditunggu lagi. Meskipun aku tahu, sebenarnya tidak ditunggu pun hari itu akan datang juga. Bukankah waktu terus merambat, merayap, dan mendekat.
Tapi entah kenapa aku begitu antusias menunggu lebaran datang. Kamar-kamar mulai aku bersihkan. Bunga-bunga aku sirami dan aku ganti potnya dengan yang baru. Dan seluruh dinding telah aku cat dengan warna bagus dan terang. Tak lupa, aku minta Lastri membantuku membuat kue kesukaan anak-anak dan cucu-cucuku. Ayam kampung peliharaanku juga telah aku siapkan. Mereka paling suka, jika pulang tersedia ayam kampung untuk dipanggang. Karena saya tahu, di tempat tinggalnya di kota sana tentu ayam kampung sulit dicari. Kalau pun ada, pasti jarang.
Selalu demikian tiap tahun menjelang lebaran. Aku menyambutnya dengan penuh sukacita sebagai seorang ibu, mertua,dan nenek bagi anak, mantu, dan cucu-cucuku. Aku ingin mereka tetap perpandangan baik terhadapku. Berusaha sebisa mungkin membuat mereka betah dan kerasan. Meski saat mereka datang, aku juga menyimpan sedih, karena itu artinya mereka juga akan secepat mungkin pergi. Jika begitu, aku harus ingat bahwa kebahagiaan tiada yang kekal. Apa yang aku tunggu-tunggu membuat perpisahan semakin mendekat.
Mungkinkah anak-anak dan cucu-cucuku berpikiran sama sepertiku. Menunggu waktu itu dan menganggapnya istimewa seperti yang aku rasakan. Dalam hati aku mengiyakan, “Pastilah mereka juga sama denganku. Menunggu hari lebaran datang. Bertemu neneknya dan bermain di halamn rumah kampung nan luas. Yang tentu tak dimiliki anak-anakku yang berumah di kota dengan halaman dan taman yang tak cukup buat berlarian hingga berkeringat.”. Juga bukan karena alasan hari-hari berpuasa akan segera usai, aku menggu lebaran datang. Aku mengharapkannya karena pada hari lebaranlah anak-anak beserta cucu-cucuku datang menjengukku. Menghangatkan rumah yang selama setahun sepi. Tak ada jeritan anak kecil atau derai tawa anak-anakku yang saling ejek.
Sejak berumah tangga, hanya setahun sekali saja mereka datang menjengukku. Karena selain jaraknya yang tidak dekat, ongkosnya banyak, biasanya alasan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan.
Dan aku maklumi itu. Toh, sebagai orang tua aku tidak boleh manja dan menyusahkan anak-anakku. Bukankan lebih dari cukup mereka memperhatikanku. Setiap setahun sekali mereka menyisihkan waktu menjengukku. Dan setiap bulannya selalu mengirimiku uang atau paket tanpa aku minta. Mungkin sebagai penebus karena mereka tak bisa mendampingiku di saat usiaku telah senja. Atau itulah bentuk bakti anak-anakku yang semasa kecil kubesarkan, dan saat telah besar mereka ingin mencurahkan kasih sayangnya padaku.
Anak yang kulahirkan pertama kali beristrikan seorang perempuan Palembang. Karena pekerjaannya juga di sana, maka menetaplah ia di tanah seberang bersama keluarganya. Sedang anakku yang kedua bersuamikan lelaki Papua. Semenjak lulus sekolah menengah atas anak perempuanku ini ikut budhenya yang menjadi dosen di salah satu universitas di Papua. Dan saat ini anakku yang kedua mengajar juga di salah satu universitas di sana.
Kedua anakku telah meninggalkan tanah tempat lahirnya sejak mereka lulus SMA. Walhasil, aku dan suamiku saja yang menempati rumah besar ini. Suara anak-anak telah lama tak kami dengar. Jika kangen atau ingin tahu kabar, kami hanya bisa mendengar suaranya di ujung sana lewat telepon. Jadi, sebenarnya aku tidaklah kaget dengan kesendirian dan keheningan. Karena aku telah terbiasa mereka tidak hadir di rumah ini.
Empat tahun lalu aku tidak merasa kesepian karena ditemani suamiku yang seorang pensiunan guru. Meskipun kami sama-sama pensiunan guru, kami tidak pernah menganggur. Kegemaran membuat kue di waktu muda tak bisa membuatku diam. Sewaktu jadi guru, berangkat ke sekolah untuk mengajar aku tak lupa membawa kue kering untuk dititipkan di warung dekat sekolah dan kantin sekolah.
Dengan bantuan suamiku, di sore hari usai mengajar kami membuatnya bersama-sama. Dan tak terasa, aku memiliki tabungan dari hasil jualanku. Anak-anaku dibesarkan dan disekolahkan dari jerih payah pembuatan kue itu. Sebagai seorang guru gaji kami tak seberapa. Hanya cukup untuk pengobatan Emak ke dokter dan membeli gula non-kalori. Emak memiliki penyakit diabetes, maka pengobatan harus rutin agar penyakitnya tak mengganggu organ lain. Selebihnya, yang menopang kehidupan kami agar terus berjalan adalah berjualan kue.
Usai anak pertamaku dibaiat menjadi sarjana, Emak meninggal. Emak jatuh dari ranjang saat hendak bangun. Tiga tahun kemudian menyusul suamiku menghadap Yang Kuasa karena kecelakaan terserempet bus saat mengantar kue dagangan. Dan empat tahun sudah aku ditinggal orang-orang yang aku sayangi. Sebatangkara. Satu-satunya yang menjadi teman dan yang senantiasa menghiburku hanyalah Lastri. Lastrilah yang mengurusi semua keperluanku selama ditinggal anak-anak dan suamiku.
Sering anak-anakku memintaku tinggal bersama salah satu dari mereka. Agar aku tak kesepian. Selain sudah tua, anak-anakku ingin aku ada yang merawat. Tapi tawaran itu aku tolak karena aku tidak ingin menyusahkan mereka.
Itulah alasannya mengapa aku begitu bersemangat tatkala menyambut hari lebaran. Aku membayangkan seperti setahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya. Rumah ini begitu penuh orang. Kejaran anak-anak. Riuh tawa dan cerita.
Meski hanya setahun sekali anak-anak dan cucu-cucuku datang. Sungguhlah aku rela menunggui lebaran selanjutnya, karena pada saat itulah rinduku terobati.
Jakarta, 11 September
*Oleh: Kustiah
Beberapa hari ini mata kananku sedikit berair dan kedutan. Menurut emak, kedutan di mata kanan tandanya akan bertemu kekasih atau orang yang kita sayangi. “Jika mata sebelah kanan kedutan, janganlah kamu terlalu khawatir. Karena itu pertanda baik,” kata Emak sewaktu masih hidup. “Khawatirlah jika yang kedutan itu mata kirimu. Segeralah ambil air wudhu dan berdoa agar peristiwa buruk tak terjadi. Hanya doa yang bisa menggagalkanya. Karena, jika yang kedutan mata sebelah kiri, itu pertanda akan ada bahaya datang. Pertanda kamu akan menangis,” lanjut Emak suatu kali.
Emak memang mahir dalam urusan mengartikan pertanda. Entah itu benar atau tidak kami tidak pernah mempermasalahkannya. Dan kami sebagai anak-anaknya selalu percaya. Di kemudian hari kami mengatakan yang sama kepada anak-anak kami. Meski kami dan anak kami berbeda cara pandang. Kalau dulu, saat Emak mengartikan pertanda dan mengatakannya kepada kami, kami percaya dan membenarkan dengan menghubung-hubungkan peristiwa yang telah ataupun yang akan terjadi. Sedangkan saat ini sungguh jauh berbedaa. Saat aku mencoba mengatakan hal yang sama kepada anak-anakku seperti yang Emak katakan kepada anak-anaknya, mereka segera berkata, “Ibu kuno, hari gini masih percaya mitos. Bisa jadi mata kedutan akibat kelilipan atau lelah. Ah, ibu mah percaya saja apa yang dikatakan orang jaman dulu” kata anak-anakku. Setelah itu, hanya sampai generasi kami saja yang percaya pada arti pertanda-pertanda itu. Sedang anak-anak kami tidak.
Begitupun dengan suara tokek yang sepanjang siang mengganggu istirahatku. Maka, Lastri yang akan mencari sapu ijuk bergagang panjang yang biasa digunakan membersihkan sawang untuk mengusir tokek itu. Kembali aku ingat kata Emak. Jika tokek bersuara di penuwun rumah pada siang hari, itu tandanya akan datang tamu agung. Aku mencoba mengingat-ingat, adakah seseorang yang aku tunggu hingga mata kananku terus bergerak-gerak. Atau siapakah gerangan tamu agung yang hendak berkunjung ke rumah nenek tua ini.
Tidak sia-sia Emak mewariskan ilmu menafsirkan tanda. Yang membuatku selalu merasa optimistis dan bertawakal. Ternyata, pun pertanda itu benar atau tidak, ia telah mengalirkan pengharapan pada tubuh tua ini.
Aku kemudian ingat anak-anak dan cucu-cucuku. Sebentar lagi lebaran datang. Pastilah yang akan datang dan menjadi tamu agung itu mereka. Setelah bulan puasa yang kutunggu-tunggu telah tiba, sekarang giliran hari lebaran yang kuharapkan segera datang.
Manusiwi bukan, jika hari yang ditunggu telah datang maka hari lain yang ditunggu lagi. Meskipun aku tahu, sebenarnya tidak ditunggu pun hari itu akan datang juga. Bukankah waktu terus merambat, merayap, dan mendekat.
Tapi entah kenapa aku begitu antusias menunggu lebaran datang. Kamar-kamar mulai aku bersihkan. Bunga-bunga aku sirami dan aku ganti potnya dengan yang baru. Dan seluruh dinding telah aku cat dengan warna bagus dan terang. Tak lupa, aku minta Lastri membantuku membuat kue kesukaan anak-anak dan cucu-cucuku. Ayam kampung peliharaanku juga telah aku siapkan. Mereka paling suka, jika pulang tersedia ayam kampung untuk dipanggang. Karena saya tahu, di tempat tinggalnya di kota sana tentu ayam kampung sulit dicari. Kalau pun ada, pasti jarang.
Selalu demikian tiap tahun menjelang lebaran. Aku menyambutnya dengan penuh sukacita sebagai seorang ibu, mertua,dan nenek bagi anak, mantu, dan cucu-cucuku. Aku ingin mereka tetap perpandangan baik terhadapku. Berusaha sebisa mungkin membuat mereka betah dan kerasan. Meski saat mereka datang, aku juga menyimpan sedih, karena itu artinya mereka juga akan secepat mungkin pergi. Jika begitu, aku harus ingat bahwa kebahagiaan tiada yang kekal. Apa yang aku tunggu-tunggu membuat perpisahan semakin mendekat.
Mungkinkah anak-anak dan cucu-cucuku berpikiran sama sepertiku. Menunggu waktu itu dan menganggapnya istimewa seperti yang aku rasakan. Dalam hati aku mengiyakan, “Pastilah mereka juga sama denganku. Menunggu hari lebaran datang. Bertemu neneknya dan bermain di halamn rumah kampung nan luas. Yang tentu tak dimiliki anak-anakku yang berumah di kota dengan halaman dan taman yang tak cukup buat berlarian hingga berkeringat.”. Juga bukan karena alasan hari-hari berpuasa akan segera usai, aku menggu lebaran datang. Aku mengharapkannya karena pada hari lebaranlah anak-anak beserta cucu-cucuku datang menjengukku. Menghangatkan rumah yang selama setahun sepi. Tak ada jeritan anak kecil atau derai tawa anak-anakku yang saling ejek.
Sejak berumah tangga, hanya setahun sekali saja mereka datang menjengukku. Karena selain jaraknya yang tidak dekat, ongkosnya banyak, biasanya alasan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan.
Dan aku maklumi itu. Toh, sebagai orang tua aku tidak boleh manja dan menyusahkan anak-anakku. Bukankan lebih dari cukup mereka memperhatikanku. Setiap setahun sekali mereka menyisihkan waktu menjengukku. Dan setiap bulannya selalu mengirimiku uang atau paket tanpa aku minta. Mungkin sebagai penebus karena mereka tak bisa mendampingiku di saat usiaku telah senja. Atau itulah bentuk bakti anak-anakku yang semasa kecil kubesarkan, dan saat telah besar mereka ingin mencurahkan kasih sayangnya padaku.
Anak yang kulahirkan pertama kali beristrikan seorang perempuan Palembang. Karena pekerjaannya juga di sana, maka menetaplah ia di tanah seberang bersama keluarganya. Sedang anakku yang kedua bersuamikan lelaki Papua. Semenjak lulus sekolah menengah atas anak perempuanku ini ikut budhenya yang menjadi dosen di salah satu universitas di Papua. Dan saat ini anakku yang kedua mengajar juga di salah satu universitas di sana.
Kedua anakku telah meninggalkan tanah tempat lahirnya sejak mereka lulus SMA. Walhasil, aku dan suamiku saja yang menempati rumah besar ini. Suara anak-anak telah lama tak kami dengar. Jika kangen atau ingin tahu kabar, kami hanya bisa mendengar suaranya di ujung sana lewat telepon. Jadi, sebenarnya aku tidaklah kaget dengan kesendirian dan keheningan. Karena aku telah terbiasa mereka tidak hadir di rumah ini.
Empat tahun lalu aku tidak merasa kesepian karena ditemani suamiku yang seorang pensiunan guru. Meskipun kami sama-sama pensiunan guru, kami tidak pernah menganggur. Kegemaran membuat kue di waktu muda tak bisa membuatku diam. Sewaktu jadi guru, berangkat ke sekolah untuk mengajar aku tak lupa membawa kue kering untuk dititipkan di warung dekat sekolah dan kantin sekolah.
Dengan bantuan suamiku, di sore hari usai mengajar kami membuatnya bersama-sama. Dan tak terasa, aku memiliki tabungan dari hasil jualanku. Anak-anaku dibesarkan dan disekolahkan dari jerih payah pembuatan kue itu. Sebagai seorang guru gaji kami tak seberapa. Hanya cukup untuk pengobatan Emak ke dokter dan membeli gula non-kalori. Emak memiliki penyakit diabetes, maka pengobatan harus rutin agar penyakitnya tak mengganggu organ lain. Selebihnya, yang menopang kehidupan kami agar terus berjalan adalah berjualan kue.
Usai anak pertamaku dibaiat menjadi sarjana, Emak meninggal. Emak jatuh dari ranjang saat hendak bangun. Tiga tahun kemudian menyusul suamiku menghadap Yang Kuasa karena kecelakaan terserempet bus saat mengantar kue dagangan. Dan empat tahun sudah aku ditinggal orang-orang yang aku sayangi. Sebatangkara. Satu-satunya yang menjadi teman dan yang senantiasa menghiburku hanyalah Lastri. Lastrilah yang mengurusi semua keperluanku selama ditinggal anak-anak dan suamiku.
Sering anak-anakku memintaku tinggal bersama salah satu dari mereka. Agar aku tak kesepian. Selain sudah tua, anak-anakku ingin aku ada yang merawat. Tapi tawaran itu aku tolak karena aku tidak ingin menyusahkan mereka.
Itulah alasannya mengapa aku begitu bersemangat tatkala menyambut hari lebaran. Aku membayangkan seperti setahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya. Rumah ini begitu penuh orang. Kejaran anak-anak. Riuh tawa dan cerita.
Meski hanya setahun sekali anak-anak dan cucu-cucuku datang. Sungguhlah aku rela menunggui lebaran selanjutnya, karena pada saat itulah rinduku terobati.
Jakarta, 11 September
Nasibku Malang di Keretaku Sayang
Siapa sih yang tidak kenal kereta? Hampir semua lapisan masyarakat tahu dan pernah naik “ular besi” ini atau sekadar tahu bentuk kereta. Moda transportasi ini cenderung menjadi pilihan saat bepergian, alasannya selain kereta tidak kenal macet ongkosnya juga murah meriah. Dibanding dengan alat transportasi lainnya kereta memang dikenal paling bisa dijangkau oleh kalangan kelas bawah. Maka tak salah jika penumpang kereta tidak pernah pindah ke lain pengangkut.
Tapi sayangnya, pilihan masyarakat penumpang untuk tidak meninggalkan kereta tidak bersambut manis. Jumlah penduduk yang semakin bertambah (yang asumsinya penumpang kereta juga semakin bertambah) membuat kereta menjadi alat transportasi yang tidak bersahabat bagi penumpang. Tak jarang jumlah penumpang yang melebihi kapasitas gerbong membuat kenyamanan dan keamanan terabaikan.
Memang telah ada penambahan gerbong oleh PT Kereta Api Indonesia. Namun penambahan itu dirasa kurang karena tetap saja tidak sebanding dengan banyaknya jumlah penumpang. Selain keamanan dan kenyaman, yang sering menjadi persoalan calon penumpang adalah para calo yang bergentayangan di sekitar stasiun. Meski PT KAI telah menyediakan penjualan tiket secara online, tetap saja tiket cetakan PT KAI ini beredar di tangan calo.
Hari-hari menjelang lebaran membuat penjualan tiket di stasiun Gambir bertambah ramai. Dan menurut pengamatan tak ada perbaikan pelayanan. Dari tahun ke tahun selalu sama. Antre, tertipu, dan nelangsa tatkala berada di atas kereta. Pemandangan klasik masih saja terlihat. Para calon penumpang yang telah berjam-jam mengantre ular-ularan sepanjang 500 meter, di lain waktu bisa lebih panjang. Kadang, bahkan lebih sering mereka harus menelan pil pahit. Mereka harus bubar dari antrean karena tiket telah habis. Jika begini para calo segera merapat. Menawarkan tiket ke calon penumpang yang kecewa karena tidak bisa mendapatkan tiket. Ada sebagian yang rela mengeluarkan ongkos dua kali lipat lebih mahal, lainnya memilih membeli tiket di atas kereta.
Yang memilih beli tiket di atas kereta jangan harap bisa masuk ke dalam kereta. Di sana ada beberapa petugas yang siap menanyai tiket kereta. Tentu setelah itu kita digiring ke petugas kereta api yang melayani penjualan tiket secara ilegal. Meski yang ditawarkan adalah tiket ilegal tanpa tempat duduk, tetap saja kita harus membayar dengan harga tiket yang legal. Jika digambarkan tiket ilegal ini serupa dengan tiket parkir yang di keluarkan oleh Pemda DKI. Tak ada stempel, tanggal atau logo PT KAI. Yang ada hanya coretan tangan tergesa-gesa. Di tempat pelayanan ini tak ada meja atau perkakas apa pun. Dua petugas laki-laki berdiri dan dikitari tiga sampai empat petugas. Di sinilah orang yang tidak beruntung mendapatkan tiket berkerumun membeli tiket. Kurang lebih sekitar 30-an orang selam tiga sesi. Setibanya di dalam kereta api, para calon penumpang ini bersiap-siap menyiapkan koran untuk sekadar duduk atau meringkuk.
Di sinilah kejanggalan pelayanan kereta api kembali tampak. Di satu sisi puluhan orang telah rela mengantre berjam-jam tapi tanpa hasil karena tiket habis. Sementara itu, banyak sekali para calon penumpang baru tiba-tiba menempati kursi kosong di dalam kereta api. Ternyata usut-punya usut, penjualan tiket kereta api dilaksanakan kembali saat lima menit sebelum kereta berangkat. Kami pun menyimpulkan bahwa PT KAI telah berlaku curang. Kami mengira bahwa penjualan itu dilakukan karena tiket yang di jual para calo tidak laku, maka diserahkan kembali ke petugas penjualan kereta api.
Perlu dipertanyakan kembali, dengan buruknya pelayanan PT KAI apakah kereta masih akan menjadi pilihan masyarakat? Dilihat dari banyaknya penumpang kereta api, sebenarnya tak relevan jika PT KAI mengalami kebangkrutan. Maka evaluasi di pihak internal PT KAI sendiri patut dilakukan
Siapa sih yang tidak kenal kereta? Hampir semua lapisan masyarakat tahu dan pernah naik “ular besi” ini atau sekadar tahu bentuk kereta. Moda transportasi ini cenderung menjadi pilihan saat bepergian, alasannya selain kereta tidak kenal macet ongkosnya juga murah meriah. Dibanding dengan alat transportasi lainnya kereta memang dikenal paling bisa dijangkau oleh kalangan kelas bawah. Maka tak salah jika penumpang kereta tidak pernah pindah ke lain pengangkut.
Tapi sayangnya, pilihan masyarakat penumpang untuk tidak meninggalkan kereta tidak bersambut manis. Jumlah penduduk yang semakin bertambah (yang asumsinya penumpang kereta juga semakin bertambah) membuat kereta menjadi alat transportasi yang tidak bersahabat bagi penumpang. Tak jarang jumlah penumpang yang melebihi kapasitas gerbong membuat kenyamanan dan keamanan terabaikan.
Memang telah ada penambahan gerbong oleh PT Kereta Api Indonesia. Namun penambahan itu dirasa kurang karena tetap saja tidak sebanding dengan banyaknya jumlah penumpang. Selain keamanan dan kenyaman, yang sering menjadi persoalan calon penumpang adalah para calo yang bergentayangan di sekitar stasiun. Meski PT KAI telah menyediakan penjualan tiket secara online, tetap saja tiket cetakan PT KAI ini beredar di tangan calo.
Hari-hari menjelang lebaran membuat penjualan tiket di stasiun Gambir bertambah ramai. Dan menurut pengamatan tak ada perbaikan pelayanan. Dari tahun ke tahun selalu sama. Antre, tertipu, dan nelangsa tatkala berada di atas kereta. Pemandangan klasik masih saja terlihat. Para calon penumpang yang telah berjam-jam mengantre ular-ularan sepanjang 500 meter, di lain waktu bisa lebih panjang. Kadang, bahkan lebih sering mereka harus menelan pil pahit. Mereka harus bubar dari antrean karena tiket telah habis. Jika begini para calo segera merapat. Menawarkan tiket ke calon penumpang yang kecewa karena tidak bisa mendapatkan tiket. Ada sebagian yang rela mengeluarkan ongkos dua kali lipat lebih mahal, lainnya memilih membeli tiket di atas kereta.
Yang memilih beli tiket di atas kereta jangan harap bisa masuk ke dalam kereta. Di sana ada beberapa petugas yang siap menanyai tiket kereta. Tentu setelah itu kita digiring ke petugas kereta api yang melayani penjualan tiket secara ilegal. Meski yang ditawarkan adalah tiket ilegal tanpa tempat duduk, tetap saja kita harus membayar dengan harga tiket yang legal. Jika digambarkan tiket ilegal ini serupa dengan tiket parkir yang di keluarkan oleh Pemda DKI. Tak ada stempel, tanggal atau logo PT KAI. Yang ada hanya coretan tangan tergesa-gesa. Di tempat pelayanan ini tak ada meja atau perkakas apa pun. Dua petugas laki-laki berdiri dan dikitari tiga sampai empat petugas. Di sinilah orang yang tidak beruntung mendapatkan tiket berkerumun membeli tiket. Kurang lebih sekitar 30-an orang selam tiga sesi. Setibanya di dalam kereta api, para calon penumpang ini bersiap-siap menyiapkan koran untuk sekadar duduk atau meringkuk.
Di sinilah kejanggalan pelayanan kereta api kembali tampak. Di satu sisi puluhan orang telah rela mengantre berjam-jam tapi tanpa hasil karena tiket habis. Sementara itu, banyak sekali para calon penumpang baru tiba-tiba menempati kursi kosong di dalam kereta api. Ternyata usut-punya usut, penjualan tiket kereta api dilaksanakan kembali saat lima menit sebelum kereta berangkat. Kami pun menyimpulkan bahwa PT KAI telah berlaku curang. Kami mengira bahwa penjualan itu dilakukan karena tiket yang di jual para calo tidak laku, maka diserahkan kembali ke petugas penjualan kereta api.
Perlu dipertanyakan kembali, dengan buruknya pelayanan PT KAI apakah kereta masih akan menjadi pilihan masyarakat? Dilihat dari banyaknya penumpang kereta api, sebenarnya tak relevan jika PT KAI mengalami kebangkrutan. Maka evaluasi di pihak internal PT KAI sendiri patut dilakukan
Langganan:
Postingan (Atom)