Minggu, 06 Juli 2008


Yang Tak Menyerah pada Kemiskinan

PEREMPUAN paruh baya itu berjalan terseok-seok. Di kepalanya ada rantang berisi sambal. Tangan kirinya menenteng tampah yang berisi pecel dan peyek, sedangkan tangan kanan menjinjing teko. Seakan tak ingin ada ruang yang kosong, punggungnya pun menggendong bakul besar berisi nasi. Toh ia terus berusaha merangsek, menembus penumpang yang berimpit di gerbong kereta api kelas ekonomi jurusan Semarang-Cepu. Kain kebaya yang dikenakan seakan tak pernah menghalanginya bergerak maju. “Pecel Mbak, pecel. Mas pecel, Mas,” teriaknya yang terdengar timbul tenggelam karena harus beradu riuh dengan suara kereta api yang menderu-deru.

Tidak semua orang sanggup membawa begitu banyak beban dan berjalan di antara penumpang yang berdesak-desakan. Tapi perempuan itu terlihat mahir melakukannya. “Saya sudah 15 tahun berjualan pecel di dalam kereta, Mbak,” tutur Bu Yati, nama enjual pecel gendong itu. “Gaji suami tidak cukup untuk membiayai sekolah anak-anak. Jadi, saya harus mencari akal dan ikut kerja keras untuk mencukupi kebutuhan,” kata perempuan yang ternyata merupakan istri dari salah satu maitanance di PT Kereta Api Indonesia. Semua kesulitan itu ia lewati hingga tak terasa anaknya telah lulus dari perguruan tinggi.


Jerih payahnya sungguh tidak sia-sia. Anak sulungnya saat ini telah menjadi akuntan di sebuah perusahaan swasta di Semarang. “Saya tidak mau menyerah dengan kemiskinan yang saya hadapi, karena anak-anak harus tetap sekolah,” katanya, bersemangat. Meskipun usianya mendekati kepala enam, semangatnya untuk mengadu nasib di tengah jejalan penumpang belum surut. Sebab, masih ada anaknya yang harus dibiayai untuk menamatkan SMA, syukur-syukur bisa menjadi sarjana seperti kakaknya.


“Sekarang anak saya yang pertama bisa membantu membiayai sekolah adiknya. Jadi saya tidak terlalu ngoyo seperti dulu. Lima tahunan yang lalu saya sanggup menjual nasi pecel dalam sekali jalan. Sekarang nasi pecel baru habis kalau bolak-balik jalan,” ujarnya sembari menghapus keringat di dahi dengan ujung selendang gendongnya. Yang dimaksud sekali alan adalah perjalanan kereta ekonomi dari Semarang menuju Cepu.


Dalam perjalanan itu, ia akan menyusur dari gerbong satu menuju gerbong lainnya. Perjuangannya menjadi tambah berat, karena pedagang pecel bukan hanya ia seorang. Ada belasan pedagang lainnya yang ratarata perempuan kategori paruh baya. “Teman saya banyak. Jadi, untung-untungan, Mbak. Tapi ada beberapa penumpang yang sudah menjadi langganan.” Di sela-sela penumpang yang berjejal itu, menurut Bu Yati, nasib baik akan berpihak kepada para pedagang, termasuk kepada penjual nasi pecel.


Memang, semakin banyak penumpang, semakin banyak calon pembeli. Pecel yang dijual Bu Yati itu dinamai sego pecel gambringan. Pecel ini sudah tidak asing lagi bagi penumpang kereta di jalur tersebut. Bukan saja karena rasanya yang enak, tetapi juga karena harganya yang murah. Harga tiap pincuk nasi pecel adalah Rp2000, sudah termasuk peyek. Dalam sehari, Bu Yati rata-rata bisa menjual sampai 50 pincuk.

“Biasanya tidak ada nasi yang saya bawa pulang, paling yang tersisa hanya peyek,” katanya.


Tidak semua pecel pincuk itu terjual di kereta api. Begitu sampai Cepu, kalau masih ada sisa, Bu Yati dan kawan-kawannyaakan menjajakan dagangannya di sekitar Rumah Sakit Cepu, pasar, ataupun menyusuri jalanan protokol. Sosok seperti Bu Yati di Tanah Air kita ini, dari waktu ke waktu, dari tempat ke tempat, selalu hadir untuk menyelamatkan rumah tangga dari keruntuhan akibat himpitan ekonomi. Rasa hormat patut disematkan pada mereka. Bisa jadi, satu di antara mereka itu adalah ibu Anda.

Jumat, 04 Juli 2008

Bekerja

Entah berapa lama aku sudah masuk dalam dunia kerja. Ketika seseorang merasa telah memiliki kewajiban baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain, maka bekerja adalah keniscayaan.
Aku sendiri telah lupa kapan tidak bekerja. Bahkan, di saat menatap senja di kala libur kangen untuk terbebas dari kerja begitu menderu. Kapan ya?

Mungkin berbeda saat senior high school kali ya. Betapa hidup itu hanya untuk berbahagia saja. pagi hari berangkat sekolah by bus selama 15 minutes. Sepuluh menit sebelum pelajaran dimulai, bercanda terlebih dahulu dengan teman-teman. Melewati pelajaran dengan sangat menyenangkan. Menyelesaikan persoalan apalagi? kami selalu jentle menghadapinya.
Jadi inget dengan temenku yang berambut panjang. Saat merasa tidak nyaman dengan salah seorang guru (karena merasa disindir di kelas), kami segera menemuinya. Menanyakannya dengan berani, memberi kritikan, dan selanjutnya meminta maaf...ah,,betapa rindu dengan masa-masa itu

Rabu, 02 Juli 2008

Senja

Senja di balik jendela lebih indah

Meski tidak ada kemeriahan

Dan tidak ada engkau di sini

JANGAN MENOLAK COKELAT


;l;

SELAIN rasanya yang manis, cokelat juga memberikan segudang manfaat bagi kesehatan tubuh. Para ibu boleh khawatir jika anaknya memiliki kegemaran memakan cokelat karena takut gigi keropos, tapi jangan buru buru menyimpulkan bahwa cokelat adalah makanan yang patut dijauhi.

Menurut sebuah penelitian tentang cokelat di Pusat Kesehatan Universitas Harvard, cokelat dapat membantu kesehatan hati. Mary B. Engler, sang peneliti cokelat dan Direktur Program Pascasarjana, Ilmu Tulang dan Genom, Sekolah Perawat Universitas California , San Francisco , mendapati bahwa cokelat melancarkan aliran darah, mengurangi nyeri tulang, dan mengikat kolesterol jahat dalam tubuh. Zat yang terkandung

dalam cokelat bernama flavonoids. Zat inilah yang bertugas mencegah terjadinya sel rusak dan peradangan.

Jika Anda seorang penderita darah tinggi, cokelat juga bias membantu menurunkan darah tinggi Anda. Seorang Direktur Laboratorium Penelitian Antioksidan Universitas Tuts, baru-baru ini menemukan seorang pasien hipertensi mengalami penurunan drastis setelah mengonsumsi cokelat 3,5 ons setiap hari selama dua minggu berturut-turut. Dan tidak ada dampak buruk yangditemukan pada para pengonsumsi cokelat ini.

Manfaat lainnya, cokelat dapat membantu memulihkan kesehatan setelah sakit. Sebuah penelitian di Universitas Indiana menunjukkan, cokelat terbukti lebih cepat membantu masa pemulihan ketimbang meminum suplemen.

Temuan terbaru seorang peneliti Jerman yang setiap hari selalu mengonsumsi cokelat selama tiga bulan, kulit peneliti ini semakin lembut, bercahaya, dan tidak cepat kusam saat sinar matahari menyengat kulitnya. Ia baru menyadari bahwa flavonoids yang terkandung dalam cokelat itulah yang menyerap sinar ultra violet matahari, membantu melindungi, dan memperlancar peredaran darahnya.

Masih tentang cokelat, peneliti dari Universitas Virginia Timur menyimpulkan bahwa cokelat membantu mempertajam daya ingat, karena darah yang mengalir menuju otak menjadi lancar. Cokelat membuat hidup lebih bergairah.

Seorang peneliti Italia penasaran ingin mengetahui apakah cokelat mengandung zat perangsang. Dalam sebuah penelitiannya ia melibatkan 143 perempuan yang telah menikah sebagai responden. Perempuan yang setiap hari memakan cokelat terbukti memiliki keinginan untuk berhubungan seksual lebih banyak dan lebih cepat mencapai orgasme dibanding mereka yang tidak mengonsumsi atau mengonsumsi cokelat sedikit saja.

Ternyata cokelat memiliki manfaat lebih banyak ketimbang yang kita ketahui selama ini. Jadi, bila Anda telah memutuskan diri untuk tidak mengonsumsi makanan yang satu ini, urungkanlah. Karena Anda akan rugi menjauhinya.


KEKERASAN BERBAJU AGAMA


Masih ingat dengan peristiwa Monas (Monumen Nasional) yang pekan lalu sempat menjadi hedline beberapa media di Indonesia. Salah satu organisasi Islam melakukan penyerangan terhadap sekelompok massa yang sama-sama melakukan aktivitas di Monas.

Ormas Islam yang menamakan diri Front Pembela Islam geram dengan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan. Pasalnya AKKBB mendukung gerakan jamaah Ahmadiyah. Yang dianggapnya telah menyimpangkan ajaran agama Islam dan dituduh sebagai sebuah aliran sesat yang layak dibubarkan.

Masyarakat umum tahu bahwa AKKBB adalah aliansi masyarakat yang menjunjung tinggi pluralisme termasuk tidak mempermasalahkan keberadaan Ahmadiyah. Alasannya jelas bahwa jamaah Ahmadiyah adalah manusia yang memiliki hak asasi untuk berbuat, memilih, dan memutuskan selama tidak melanggar hak asasi.

Berlarut-larutnya masalah Ahmadiyah membuat AKKBB tidak tinggal diam. Padahal masalah ini seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah untuk melindungi warga negaranya. Karena FPI sudah melakukan pelanggaran hak asasi manusia. FPI dan ormas anti-Ahmadiyah yang menamakan diri mereka sebagai pembela Islam dan kebenaran tersebut, tidak hanya melakukan pembakaran terhadap masjid milik jamaah Ahmadiyah melainkan penyerangan dan pengrusakan. Korbannya tentu saja para jamaah Ahmadiyah yang tidak saja terdiri dari bapak-bapak tapi juga para ibu dan anak-anak.

Tak ada perlawanan, yang hanya bisa dilakukan jamaah Ahmadiyah adalah mengungsi dan mencari perlindungan. Dari sinilah saya bertemu dengan mereka. Di sebuah forum di Utan Kayu. Ketika bertemu dengan jamaah ini saya lupa bahwa yang saya hadapi adalah Ahmadihyah. Saya hanya melihat mereka sebagai korban yang hak asasinya telah diusik dan penghidupannya diganggu orang lain. Di sebuah negara yang memiliki Undang-Undang sebagai konstitusi negara. Yang setiap alineanya menenteramkan orang yang membacanya. Salah satunya adalah berbunyi bahwa “kemerdekaan adalah hak segala bangsa, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan” (alenia pembuka UUD 1945).

Batin saya kembali terusik manakala yang saksikan bukan hanya ibu-ibu yang menangis dan berkeluh kesah, melainkan banyak anak kecil. Seorang ibu (maaf tidak bisa saya sebutkan namanya) mengatakan, akibat dari pembakaran—yang biasa dilakukan di malam hari—dan penyerangan, mereka tidak saja kehilangan tempat tinggal. Anak-anak terpaksa harus meninggalkan sekolah dan tempat bermainnya.

Di sekolah, anak-anak tidak jarang mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan baik dari guru maupun teman-temannya. Misal, pembagian rapor dibedakan. Untuk anaknya jamaah Ahmadiyah rapor dibagikan setelah rapor anak-anak yang bukan anggota jamaah Ahmadiyah selesai dibagikan dan itu pun dibedakan warnanya. Contoh lainnya adalah para guru menyebut aliran Ahmadiyah bukan sebagai bagian dari agama Islam melainkan sebuah agama baru. Sontak para orang tua jamaah Ahmadiyah harus sering memberikan pengertian dan penjelasan kepada anak-anaknya.

Tidakkah FPI dan orang atau ormas yang anti-Ahmadiyah ini telah sedemikian besar melakukan diskriminasi. Yang tidak jauh berbeda dengan Orde Baru yang mendiskriminasikan PKI dengan memberikan simbol eks-Tapol di Kartu Tanda Penduduknya. Sungguh negara kita saat ini telah banyak dihuni oleh orang-orang yang menganggap dirinya lebih benar dan dan lebih soleh. Orang yang tidak sepaham atau seprinsip dianggapnya sebagai musuh dan lawan.

Bukankah dalam Islam sendiri aksi kekerasan diharamkan. Semua itu tercantum jelas dalam Al Quran dan Hadis. Dan saya juga yakin agama apa pun tidaklah menganjurkan penganutnya melakukan kekerasan satu sama lain. Apalagi melakukannya dengan mengatasnamakan agama sebagai yang harus dibela.

Kekerasan atas nama aliran sesat, penyimpangan agama atau penodaan agama sebenarnya bukanlah hal baru. Sudah terjadi sejak zaman Bani Umayah. Di tahun 660 M. Saat ibu kota kerajaan Arab dipindahkan ke Damsyik, tempat kedudukan baru Khalifah Bani Umayah. Di saat itulah Islam menghadapi cobaan. Masyarakat menganut aliran sesuai kepercayaannya.

Terlepas dari semua itu sejarah buruk seharusnya tidak boleh berulang. Mengingat keragaman merupakan keniscayaan yang tidak bisa dicegah terjadinya

Negara kita adalah negara yang memiliki kitab yang bernama Undang-Undang Dasar 45. Yang artinya Undang-Undang Dasar telah secara tersirat menjamin kebebasan beragama bagi setiap individu di Indonesia. Bunyi sebuah konstitusi bukanlah bunyi-bunyian yang dapat dengan mudah dilupakan dan diabaikan. Tidak memiliki taring untuk mencekal yang melanggarnya.Pemerintah justru mencari titik aman dengan menerbitkan Surat Keputusan Bersama yang diterbitkan tiga menteri yakni Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri, dan Kejaksaan Agung. Isi SKB memang tidak secara tegas membubarkan Ahmadiyah melainkan memberikan peringatan dan perintah kepada jamaah Ahmadiyah untuk menghentikan kegiatannya. Jelas bahwa negara ini lebih berani membungkam jamaah Ahmadiyah yang jelas tidak melanggar hak asasi manusia ketimbang menindak para pelaku kekerasan yang masih banyak berkeliaran.

Apakah masih kurang cukup pertumpahan darah yang terjadi akibat perbedaan paham, prinsip, dan pilihan. Seharusnya negeri ini belajar dari masa lampau. Agar tidak selalu menelan korban anak negeri. Dan segera berbenah untuk secara arif menerima segala keragaman.

Cerita Kali

Aku rindu,,,

Pada jalan-jalan yang kita lalui

Pada tandakan sawah dan pada tandakan jalan menuju kali

Kiranya masih diberikan waktu

Aku ingin menempuhinya

Melihat hijaunya air kali nan setia

Kita merenunginya sepanjang sore

Bersama rengekan pohon-pohon bambu

Karena hempasan angin

Sayang,,

Bolehlah kita melupakannya sementara waktu

Tapi kenangan itu tak akan bisa lenyap

Aku ingat

Pagi nan sejuk itu

Sementara lonceng gereja berdentang

Dan nyanyiannya bersautan

Kita bersejajar

Mengatakan bahwa kita manusia

Yang dalam sunyi lebih merasa hening

Berjanji akan saling mengasihi

Tapi jauh sebelum waktu itu datang

Aku telah menempatinya

Menungguinya di kala sore

Bersama kicau burung

Di kali itu,

Di antara rengekan pohon bambu nan rimbun

Dan kini telah lebih dari sepuluh tahun

Aku datang kembali pada kali itu

Menengok kenangan nan manis

Hendak menceritai perjalananku

Mataku menerawang

Basah,,

Air hijau itu telah ditelan bebatuan

Bahkan lumut pun tak berbekas

Kering,,

Merana

Pohon-pohon bambu itu tak lagi manja

Merengek ditingkahi angin

Kini usianya telah senja

Mungkin juga telah berganti tempat untuk anak-anaknya

Sayang,,,

Hatiku kini gersang

Karena perjalanan panjang itu

Kali ini mati, bambu berguguran

Dan perubahan tak lagi mampu mereka hindari

Aku tak sanggup menceritai pada mereka tenteng perjalananku

Justru giliranku mendengar cerita mereka

Tentang kerakusan manusia

Dan pengkhianatannya

Kadang dan lebih sering kita merasa kurang

Seolah-olah hendak hidup untuk seribu tahun lagi

Semua dirampas

Segala-galanya di hajar

Mereka tidak ingat telah beranak pinak

Ada anak cucu, cicit, dan canggah

Akan diberi apa mereka kelak

Apakah hanya akan ada cerita saja

Bahwa di kali ini lah kebahagiaan diperoleh

Ada alam yang selalu jujur

Dan kenangan dibuat

Sayangku,,

Katakan

Ke mana lagi kita akan berkunjung

Menemukan burung yang matanya tak sayu

Pohon bambu yang selalu ceria

Dan angin yang senantiasa bersahabat

Aku telah kehilangan semuanya,,

Kustiah

01 Juli 2008

Gelagah

Gelagah

Engkau seperti gelagah

Yang mesti tanah itu panas dan cuaca kering

Akarmu mampu bertahan di dalamnya

Atau pohon pinus yang rendah hati dan lembut itu

Lihat saja di lereng anak Gunung Krakatau

Mereka berdiri tegak dan tangguh

Tetap hijau meski tak ada air dan kesejukan

Hanya ada letusan magma dan udara panas

Selebihnya pasir pantai yang hangat dan angin yang kering

Aku ingin seperti mereka sayang

Menjadi matang karena deraan derita duniawi

Tidak mudah mengeluh apalagi menangisinya

Cobalah katakan

Apalagi yang harus aku mengerti

Tentang hitam dan putihkah?

Atau tentang gelap dan terangkah?

Bukankah aku telah merasainya?