Minggu, 11 Januari 2009

Anak Yatim

Oleh: Kustiah***


“Aku tunggu ya. Besok datang ke rumah pukul satu siang. Ingat kan rumahku blok A4 nomor 6. Tahu kan perumahan seberang?”

”Insya allah bu, besok saya ke sana. A4 nomor 6 ya,” katanya dengan mata bulatnya,
meyakinkan

Delapan pagi selepas bangun tidur aku langsung menuju dapur. Rumah sepi. Nur, yang biasa menanak nasi dan bertugas belanja pergi ke pasar pagi sekali untuk kulakan barang dagangannya. Kulongokkan kepalaku ke kamar sebelah. Kulihat Soleh masih tidur terlelap. Mungkin dia masih kelelahan setelah bulu tangkis semalam, pikirku. Mengurungkan niat untuk membangunkannya.

Aku ingat. Aku punya janji bertemu seseorang siang ini. Maka setelah bersih-bersih di kamar mandi, segera kunyalakan kompor untuk memasak menyiapkan sarapan sekaligus membuatkan bakwan untuk tamuku nanti.

Sepanjang memasak jantungku berdebar campur haru. Masih terngiang-ngiang suara anak perempuan kecil itu.

”Assalamualaaikuuuuuuuum”.

”Assalamualaikuuuuuuuuum”.

Di sudut hati seperti mengumpul air dan merembeskannya ke dalam mataku. Di sudut mataku tiba-tiba terasa perih karena muncul rembesan air.

”Ah, apa mungkin aku mau menstruasi setelah jeda tiga bulan?,” aku membatin.

”Apa mungkin aku tidak hamil. Tentu tidak”. Aku tertawa kecut. Sadar betul bahwa itu tidak mungkin. Begitu dua bulan tidak menstruasi aku dan suami langsung membeli tespek. Lagi-lagi aku harus menerima kenyataan dan kekalahan. Entah dengan suamiku. Yang kulihat dari raut mukanya adalah dia sedang berusaha menenangkan dan mendamaikanku dengan keadaan. Hasilnya jelas, negatif.

Lalu kurasa sedikit mulas.

”Ah, keluarlah jika ingin keluar. Aku siap melihat warna merah di celana dalamku”.

Kulihat Soleh masih juga belum keluar dari kamar. Dan aku membangunkannya untuk sholat subuh.

Aku mendengar langkah kaki terseret di luar rumah. Kubuka pintu. Dan kudapati Nur baru pulang dari pasar dengan jagungnya.

Dengan Nur aku ceritakan pertemuanku dengan anak perempuan kecil itu. Tengah malam begitu aku pulang dari pertemuan RW di rumah tetangga seberang.

Aku tak cukup kuat menahan haruku seorang diri. Juga aku ingin mengatakan ke Nur bahwa hidup kita sebenarnya sangat beruntung dan banyak diberikan berkah.

”Bersyukurlah kita Nur, masih memiliki orang tua lengkap di saat kita belum siap jika ditinggalkan. Dan kita masih tahu dan mengenal wajah bapak ibu kita,” kataku ke Nur dengan mata merembes dan hati pahit.

”Aku nggak bisa membayangkan Mbak. Hatiku juga seperti tersayat mendengar cerita Mbak Tik tadi,” kata Nur.

Lalu kami diam di saat malam telah menjelang pagi. Mataku masih juga terjaga, tak merasakan kantuk sedikit pun.

”Mbak, aku tidur di luar aja ya.Biar besok bisa kulakan pagi-pagi sekali. Kalau tidur di dalam kamar biasanya aku susah bangun pagi. Siang biar aku bisa menemui anak perempuan kecil itu,” kata Nur sedikit meminta izin dan berpesan.

Dia tahu. Aku akan melarangnya tidur di luar ruangan. Tanpa kasur dan selimut. Selain aku tak mau seluruh ruangan rumah yang hanya ada tiga ruang ini menjadi tempat tidur. Tidur ya di ruang tidur. Ruang keluarga yang juga sebagai ruang tamu tak boleh digunakan sebagai ruang tidur kecuali terpaksa. Misal jika ada tamu yang mesti tidur di dalam ruangan, otomatis dua saudara sepupu laki-itu mesti tidur di luar. Untung sampai saat ini belum pernah ada tamu yang menginap.

”Ya,” jawabku singkat sambil menutup mata dengan selimut dan bantal memaksa tidur di dalam kamar.

Sebelum Nur pulang dari pasar aku ingin menceritakan pertemuanku dengan anak perempuan kecil itu kepada Soleh. Antara iya dan tidak karena berbagai pertimbangan. Karena hati ini tak bisa menahan haru dan senang akan pertemuanku siang ini aku berhasil memulai mengatakannya. Meski aku bisa menebak apa yang akan di katakan Soleh.

Berbeda dengan Nur yang hatinya lembut dan kata-katanya tersususn enak dan menenangkan, Soleh justru sebaliknya. Sifatnya keras. Antara kritis dan kesoktahuannya tipis sekali dibedakan. Kata-kata yang diucapkannya seperti tanpa peduli dengan hati yang mengajaknya bicara. Biasa ceplas-ceplos tapi minim wawasan. Dan hatinya sangat sensitif. Jika diluruskan Soleh segera masuk kamar mengabaikan penjelasan apa pun.Tapi dia banyak ide dan mau mencoba banyak hal meski kadang sering menyepelekan orang lain. Jarang aku berkata-kata dengannya jika tidak penting setelah berkali-kali mendapat jawaban dan respons yang tidak mengenakkan. Hanya Nur saja yang mampu menjadi teman dekatnya meski tidak jarang konflik terjadi. Untung Nur tahu itu. Diam baginya adalah jawaban tepat.

”Iya kang Soleh. Anak perempuan kecil itu nanti siang mau ke sini. Aku memintanya datang jam satu siang,” kataku.

”Iya kalau yang dikatakannya itu benar. Bisa saja sampeyan ditipu. Mbak percaya saja begitu,” jawabnya.

”Aku tahu apakah anak perempuan itu menipuku, jujur atau tidak. Aku bisa melihat kebohongan dan kejujuran dari matanya,” kataku lagi.

”Ooo, jadi mbak tahu kalau ada orang tidak jujur. Tapi takut mengatakannya. Tidak berani bilang ke orang itu kalau dia bohong”

”Sudahlah,,malas saya membahasnya. Iya, mungkin aku orang bodoh yang gampang percaya orang lain. Sudah, sudah, tak perlu dilanjutkan lagi pembicaraan ini. Aku sudah menduga itu yang akan kau katakan kepadaku.”

Lalu Soleh masuk kamar. Entah apa yang dilakukannya. Dan Nur datang.

Waktu merayap. Akhirnya selesai juga aku memasak. Dan kami sarapan bersama.

”Jam berapa dia datang Mbak,” tanya Nur sambil menyuapkan nasi pertama ke mulutnya.

”Nanti jam satu,” jawabku.

Hatiku sempat ragu apakah dia bisa datang siang ini atau tidak. Mendung tebal. Dan aku tidak yakin dia ingat alamat rumah ini.

Pertemuan pertama. Mengingat alamat orang yang tidak ia kenal. Tentu dia tidak akan hapal mukaku. Sayang,,malam itu aku tidak membawa pulpen untuk mencatatkan alamatku. Sebelumnya aku menawarkan agar anak perempuan itu menelponku. Tapi apa mungkin. Biasanya telpon ke HP kan mahal, pikirku malam itu.
Ah, aku hanya bisa berharap.

Azan zuhur berkumandang. Itu artinya jam satu siang tinggal sejam lagi. Hujan mulai rintik. Dan Nur kembali masuk rumah setelah menanam pohon singkong dan kangkung di lahan taman yang belum terurus di samping rumah..

Aku mondar-mandir. Membuka pintu dan menutupnya kembali. Mengambil kain pel dan mengelapkannya ke lantai yang basah karena hujan.

Jam bergerak. Dan saat ini pukul satu tet. Nur kulihat keluar. Dia meminta izin untuk menjemput anak perempuan itu di depan gang perumahan setelah merasa telah melihat anak kecil berkerudung lewat saat Nur menanam kangkung.

“Tadi aku melihat anak kecil berkerudung lewat. Apakah anak itu Mbak?”

”Kenapa tak kau tanya dia mau ke mana?”
”Kau itu jangan keterlaluan diamnya. Lihat, jika kelihatannya dia bingung tanya dia mau ke mana,” pekikku tak tertahan. Dan Nur segera keluar setelah aku berkata tinggi.

Anak perempuan itu mungkin tak akan kutemui lagi. Setelah niatku ingin memintanya bekerja dan tinggal bersamaku. Atau memasukkanya ke sekolah menengah pertama di daerah Tebet sana. Sama seperti yang kulakukan terhadap dua saudara sepupuku laki-laki ini.

“Kenapa usiamu sekecil ini meminta-minta,” tanyaku menatap mata anak perempuan yang tampak lelah itu.

”Ke mana orang tuamu? Berapa saudaramu?”.
“Rumah di mana? Masih sekolah”

Rentetan pertanyaan itu masih terngiang-ngiang di sudut kepalaku.

Dan hatiku merembes jika ingat jawabannya yang lugu yang aku yakin dia tidak berbohong.

Awalnya aku hanya ingin mengamati apa saja dan bagaiman yang dilakukan peminta-minta. Kuamati dia dari jarak tiga rumah di depanku. Aku tahu, anak perempuan itu pasti tahu telah aku amati.

“Assalamualaikuuuuum”
“Assalamualaikuuuuum”

Anak perempuan itu berdiri di depan rumah jauh dari pintu. Jika rumah itu berpagar dia cukup berdiri di luar pagar. Jika rumah belum berpagar maka dia akan berdiri di lima langkah dari pintu rumah. Suara salam dikeraskan. Jika nasib baik, pintu pemilik rumah akan terbuka dan tangan dengan uang yang saya tak tau nilainya menjulur. Lalu anak perempuan itu akan mendekat dan mengucapkan terima kasih.

Mataku masih mengamati tapi juga tak melepaskan pandanganku ke ponsel yang sedang mengirim pesan. Aku ada janji dengang pengurus RW di rumah temanku malam itu. Karena ini pertama kali aku ke rumahnya dan belum tahu alamatnya maka kukirim pesan agar ia mengirimkan alamatnya segera.

Anak perempuan itu sudah berdiri di lain rumah. Kali ini sudah tiga rumah tak membukakan pintu dan memberinya uang.

Dan ia melewatiku yang berdiri di tengan jalan gang yang sepi. Pintu rumah di blok ini memang telah tertupup semua. Maklum malam itu udara cukup dingin dan waktu telah menunjukkan pukul delapan malam. Tiga langkah di depanku, entah kenapa kakiku mengikutinya.

”Dik, aku mau tanya”.
Tiba-tiba mulutku kubuka. Ponsel masih di tangan. Belum aku masukkan ke saku karena masih menunggu balasan dari temanku.

”Rumahnya mana?,” tanyaku.

”Leuwipanjang bu.”

”Mana itu. Jauh dari sini?”

”Ya jauh bu.”

”Berapa ongkos dari sini ke rumah?”

”Dua puluh ribu bu, naik angkot.”

”Terus berangkatnya jam berapa dari rumah”.

”Mulai jalan jam satu siang”.

”Jalan kaki dari jam satu siang,” mataku mendelik tidak percaya. Tapi berusaha percaya dan mendengaranya.

”Iya”

”Masih punya kakak, orang tua?”

”Bapak sudah meninggal waktu saya tuju bulan di dalam kandungan. Ibu sakit lumpuh di rumah, ditungguin sama kakak yang berusia 19 tahun. Kakak yang kedua 24 tahun dan kakak pertama 29 tahun bekerja diajak temannya di Jakarta.”

Mulutnya rapat setelah menjelaskan panjang lebar kepadaku. Tak kalah rapatnya, mulutku bahkan terkunci menelan ludah. Terasa pahit.

”Lalu kamu-minta-minta. Sekecil ini?”

Dia diam. Kepalanya tetunduk. Badannya bergoyang sedikit. Dan otomatis tas rangsel yang menggantung menutupi dada dan perutnya ikut bergoyang. Tangannya memegang lembaran kertas, seperti peminta pada umumnya. Membawa kertas bertuliskan berapa ribu yang pemberi berikan. Kerudungnya tidak kumal amat, meski lusuh sedikit. Rok panjangnya menutupi mata kaki dan hanya terlihat sendal dan kakinya yang hitam. Bajunya panjang dan longgar.

Kulihat wajahnya kecokelatan matang. Mungkin karena jalan siang sepanjang hari terkena sinar matahari. Matanya sendu dan bulat. Tubuhnya kurus, persis seperti adik perempuanku sewaktu duduk di kelas satu SMP. Secepat kilat aku merasa kangen ke adikku yang sedang menempuh sekolah menengah atas di sebuah pondok pesantren di ujung Pati sana.

”Lalu pulangnya jam berapa”

”Nanti jam sembilan jam sepuluh bu”

“Sudah dapat berapa”.

“Delapan ribu”.

“Delapan ribu dari jam satu siang?,” mataku kembali mendelik.
”Lalu ongkosnya nanti bagaimana, kan itu belum cukup”.

Kulihat tirai jendela rumah di depanku dibuka. Mungkin karena percakapan kami agak terdengar keras. Dan aku memelankan suaraku.

”Mau kerja?”
”Di mana bu?”
”Ya di rumahku,” diam aku berpikir. Mulutu sekonyong-konyong menawarinya kerja tanpa aku tahu apa yang akan dikerjakannya nanti.

”Kerja apa bu?”

”Em,,emmm...pokoknya kerja. Bisa membantu saudaraku jualan jagung atau mau jualan jus?,” serta merta aku mencoba mencari ide.

”Nanti setiap minggu bisa pulang menengok ibu. Dan aku gaji”.

”Sebulan sekali aja bu. Biar uangnya ngumpul. Kira-kira gajinya berapa bu”.

”Emm,emm tiga ratus ribu. Adik makan dan kebutuhan hidupnya ibu tanggung.”

”Atau mau sekolah. Sudah sekolah?”

”Lulus SD. Tidak punya ongkos buat sekolah”.

”Ooo, ya sudah. Nanti aku sekolahkan. Emmm,,em, gampanglah itu. Atau supaya lebih jelas bagaimana jika besok adik ke rumah”.

“Boleh, jam berapa bu”.

“Bisanya jam berapa? Jam satu siang juga boleh. Gimana?”

“Insya allah saya ke sana. Rumahnya di mana bu?”

”O ya,. Tahu kan perumahan seberang,,Blok A, sama dengan perumahan ini.”

”Ooo yang seberang jalan bu ya.”

”Ya,ya”.

”Biasanya semalam dapat uang berapa”

”Tidak tentu bu, kadang dua puluh. Tapi di perumahan seberang stasiun, ada ibu yang meminta saya datang setiap tanggal 20. Ngasih 200 ribu. Ada yang meminta saya datang tanggal 30 ngasih seratus”

”Tiap bulan datang ke sana?” ah lega, pikirku. Berarti dia masih bisa makan enak. Paling tidak selama sebulan sekali.

”Ya.”

”Sudah makan?” aku berniat mengajaknya makan ke rumah. Atau aku ajak ke lapak tempat dua saudara sepupuku laki-laki berjualan. Memberinya roti bakar atau jagung bakar. Atau memberinya uang saku untuk pulang.

Tapi dia menolaknya. Dan memilih melanjutkan perjuangannya. Kulihat dari belakang baju dan rok yang besar menutupi tubuhnya yang kurus. Dan mungkin juga kakinya yang kecil tapi kuat karena jalan berkilo-kilo meter sepanjang hari.

”Bagaimana nasibmu ke depan nak. Sedang di usiamu yang belia engkau harus mengabiskan waktumu untuk terus berjalan dan meminta orang mengasihanimu.

Tubuhnya perlahan-lahan lenyap. Tapi suaranya masih bisa kudengar. Tentu isakan tangisku tak mampu kau dengar. Karena malam telah menelannya. Dan hanya hatiku saja yang merasakan pedih dan mataku yang perih.

”Tuhan aku titip kebaikan untuk anak perempuan yatim ini. Aku janji akan memeliharanya dan menengok ibunya yang lumpuh. Aku janji, akan kusekolahkan anak yatim ini jika esok ia datang kepadaku.,” doaku penuh harap sementara kakiku terus melangkah.

Hujan tak juga reda. Nur juga telah kembali dari depan gang menunggu anak perempuan itu muncul. Kutengok jam di dinding telah menunjukkan pukul tiga. Kulihat langit masih mendung. Hati berdebar masih menyisakan harapan akan terdengarnya sapaan anak perempuan yatim itu ,,”Assalamialaikuuuuuuum”.


Kustiah. Lahir di Blora 10 Mei. Penulis cerpen, saat ini bekerja sebagai penyelaras bahasa di sebuah koran harian di Jakarta.

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Tiba-tiba aku teringat anak asuhku di Surabaya. Pengamen kecil yang tidak bisa membaca. Dulu setiap sore aku mengajarinya membaca, setelah dia mendapat uang 20 ribu untuk setoran.
Tawanya hangat, ketika kubonceng di motor dia memelukku hangat. Aku merindukannya tapi aku tak tahu sekarang dia dimana. Dia baru bisa menulis namanya sendiri dan adiknya. Membayangkan dua tahun lagi dia dilecehkan di jalanan.
Setiap manusia memiliki kisahnya. Lakon dalam sandiwara dunia yang harus dijalaninya. Kelak kebaikan yang kau kirimkan pada gadis kecil itu akan menjelma dalam darah yang tidak sempat memberi warna merah di celana dalammu. Sembilan bulan lamanya.... Bersabarlah kawan, kita tahu Allah. Pasti akan datang.......

elly fithriyanasari mengatakan...

Subhanallah....
Perempuan yang berhati emas ^_^